Tag Archives: pengolahan limbah

Biogas, Energi Terbarukan sebagai Bahan Bakar Alternatif

27 Apr

picsart_04-21-12-56-41

Sobat KOPHI, karena topik kita bulan ini adalah tentang ‘energi’, kita akan membahas mengenai energi terbarukan yang berasal dari proses biologi, yaitu ‘biogas’. Istilah biogas sudah tidak asing lagi di telinga kita, utamanya bagi yang sering bergelut di bidang lingkungan, pertanian, peternakan, maupun bidang kimia dan biologi. Biogas juga disebut-sebut memiliki potensi untuk berkembang menjadi bahan bakar alternatif serupa LPG yang dapat digunakan untuk memasak. Untuk mengetahui secara lebih lanjut, mari kita kenalan dengan energi biogas.

bioooo

Sebenarnya, apa itu biogas?

Biogas merupakan gas yang terbentuk dari proses pembusukan atau fermentasi bahan-bahan  organik, seperti kotoran ternak, limbah rumah tangga, limbah pertanian, serasah, dan lain-lain, yang dilakukan oleh bakteri-bakteri yang hidup tanpa oksigen yang ada di udara (anaerob). Gas yang dihasilkan dari biogas didominasi oleh metana yakni 55-75% dan karbon dioksida sebanyak 25-45%.

Bagaimana sejarah penemuan biogas?

Jadi, kandungan dalam biogas yakni gas metan sebenarnya telah lama digunakan untuk menghasilkan panas oleh warga Mesir , China, dan Romawi Kuno. Pada tahun 1776, Alessandro Volta, seorang fisikawan Italia yang mempelajari kimia gas, kemudian menemukan gas metan dari proses pembusukan bahan organik di rawa-rawa. Hasil identifikasi gas metan yang dapat terbakar dilakukan oleh Willam Henry pada tahun 1806. Dan di tahun 1882, Becham, seorang murid dari Louis Pasteur dan Tappeiner, pertama kali memperlihatkan pembentukan gas metan secara mikrobiologis. Lalu, riset demi riset dilakukan oleh Jerman dan Perancis hingga selama perang dunia II berlangsung, pemanfaatan biogas sudah dilakukan petani di Eropa untuk menggerakkan traktor. Di Indonesia sendiri, teknologi biogas mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an dan mulai dikembangkan pada tahun 1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas yang diusung oleh Food and Agriculture Organization (FAO).

Lalu, bagaimana biogas itu terbentuk?

Pada umumnya, pembuatan biogas dari limbah kotoran dan limbah rumah tangga dilakukan dalam sebuah reaktor atau digester yang tertutup rapat sehingga tidak ada oksigen yang masuk karena proses yang terjadi yakni secara anaerob. Adapun proses-proses yang terjadi di dalam digester untuk menghasilkan gas metan (CH4) dimulai dari tahap hidrolisis yang mengurai molekul organik komplek menjadi bentuk yang lebih sederhana misalnya karbohidrat, asam amino, dan asam lemak. Selanjutnya tahap asidogenesis, yakni terjadinya penguraian yang menghasilkan amonia, karbondioksida, dan hidrogen sulfide. Kemudian tahap asetagenesis yakni penguraian produk asidogenesis menjadi hidrogen, karbon dioksida, dan asetat. Dan terakhir adalah methanogenesis, yakni menguraikan dan mensintesis produk dari proses asetagenesis sehingga menghasilkan gas metan (CH4), juga hasil lain seperti  karbon dioksida, air, dan senyawa gas lainnya dengan jumlah yang lebih kecil.

Apakah kelebihan dan kekurangan penggunaan biogas?

Gas metan yang dihasilkan oleh biogas ini jika ditampung di sebuah digester lalu ditempatkan dalam sebuah tabung maka dapat berpotensi untuk menjadi alternatif bahan bakar seperti tabung elpiji yang digunakan untuk memasak. Di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pangkep dan Enrekang, bahkan sudah melakukan peluncuran kompor biogas dan uji coba penggunaannya, dan hal tersebut sangat menguntungkan apalagi di kalangan petani yang dapat memanfaatkan limbah pertanian atau kotoran sapinya tidak hanya sebagai bahan baku pembuatan biogas, tetapi juga  dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair sehingga petani dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli pupuk. Adapun kekurangan atau kendala dari penggunaan biogas yakni masalah teknis yang membutuhkan instalasi yang tepat sehingga gas metan terbentuk sempurna. Karena proses yang terjadi adalah anaerob, maka harus dipastikan tidak ada oksigen dari luar yang terlibat selama proses berlangsung. Jadi, perangkaian alat dan pembuatan biogas harus dilakukan dengan teliti.

Nah, sudah terlihat kan betapa bermanfaatnya teknologi biogas ini dalam pengelolaan limbah yang tidak terpakai, seperti limbah pertanian, limbah rumah tangga, atau kotoran ternak yang dapat digunakan lagi sebagai bahan baku pembuatan biogas, bahkan juga dapat menghasilkan pupuk untuk dikembalikan lagi ke tanah sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman.

Semoga bermanfaat!

[am]


Referensi

Anonim. 2012. Biogas. http://kp4.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2014/06/Materi-Biogas.pdf diakses pada tanggal 20 April 2017

Anonim. 2009. Peternak sapi embangkan kompor biogas . http://manado.antaranews.com/berita/12078/peternak-sapi-kembangkan-kompor-biogas diakses pada tanggal 27 April 2017

Anonim. 2016. Bupati Pangkep launching kompor gas di labbakkang. http://makassar.tribunnews.com/2016/12/21/bupati-pangkep-launching-kompor-biogas-di-labbakkang diakses pada tanggal 27 April 2017

Rahmatiah. 2014. Biogas Sebagai Sumber Energi Alternatif. Artikel EBuletin LPMP Sulsel . ISSN. 2355-3189. Desember 2014

Selly. 2010. Sejarah perkembangan biogas. http://sellyr06.alumni.ipb.ac.id/2010/07/16/sejarah-perkembangan-biogas/ diakses ada tanggal 20 April 2017

biogas_23929460_996c83784b335a621f0e9425f5e933e3bfb4fce8

Advertisements

Social Media For Social Good Makassar

22 Mar

IMG_7420

Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat mengadakan Workshop Social Media for Social Good, yang dikaitkan dengan isu-isu lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Tree Makassar, pada Sabtu-Minggu (21-22/03/2015).

Social Media for Social Good adalah program kerja Kedutaan Besar Amerika Serikat yang dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia yaitu Jambi, Makassar, Bangka, Samarinda, Kupang dan Ternate. Sejauh ini, kegiatan tersebut sudah terlaksana di dua kota yaitu Jambi dan di Makassar.

Pada hari pertama, workshop mengangkat tema pemanfaatan media sosial sebagai media kampanye lingkungan.  “Media sosial bisa menjadi sumber informasi bagi masyarakat khususnya komunitas seperti komunitas lingkungan untuk mengkampanyekan kegiatannya ataupun sebagai sumber edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Mansyur Rahim, Penggiat Sosial Media sekaligus pembicara dalam workshop hari pertama.

Di hari kedua, workshop mengankat tema tentang pengelolaan limbah serta daur ulang sampah. Materi pertama dibawakan oleh Muh.Subhan Anugrah selaku ketua KOPHI SulSel yang membahas mengenai pengelolaan limbah secara umum, kemudian Bapak Muhammad Safri dari PT. Mars Food Indonesia mengenai bagaimana PT.Mars Food Indonesia mengelola Limbah mereka, serta kak Gita Syahrani dari Kreasi Daur Ulang Indonesia yang membahas mengenai pemanfaatan limbah menjadi kreasi yang memiliki nilai jual.

Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 60 peserta yang sebelumnya telah melewati tahap seleksi. Hadir juga perwakilan dari pusat pengelolaan ekoregion Sulawesi & Maluku, BLHD Kota Makassar, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar serta Carolina Escalera dari US EMBASSY.

Dari kegiatan ini kami berharap agar kedepannya media sosial tidak hanya digunakan sebagai wadah untuk “curhat”, namun juga dimanfaatkan sebagai wadah untuk kampanye terkait isu-isu lingkungan disekitar kita. Melihat Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak, maka jelas bahwa kampanye melalui media sosial akan benar-benar sangat efektif.