Archive | Lain-lain RSS feed for this section
Image

Mengenal KOPHI Sulsel

19 Aug

block_1

Advertisements

Biogas, Energi Terbarukan sebagai Bahan Bakar Alternatif

27 Apr

picsart_04-21-12-56-41

Sobat KOPHI, karena topik kita bulan ini adalah tentang ‘energi’, kita akan membahas mengenai energi terbarukan yang berasal dari proses biologi, yaitu ‘biogas’. Istilah biogas sudah tidak asing lagi di telinga kita, utamanya bagi yang sering bergelut di bidang lingkungan, pertanian, peternakan, maupun bidang kimia dan biologi. Biogas juga disebut-sebut memiliki potensi untuk berkembang menjadi bahan bakar alternatif serupa LPG yang dapat digunakan untuk memasak. Untuk mengetahui secara lebih lanjut, mari kita kenalan dengan energi biogas.

bioooo

Sebenarnya, apa itu biogas?

Biogas merupakan gas yang terbentuk dari proses pembusukan atau fermentasi bahan-bahan  organik, seperti kotoran ternak, limbah rumah tangga, limbah pertanian, serasah, dan lain-lain, yang dilakukan oleh bakteri-bakteri yang hidup tanpa oksigen yang ada di udara (anaerob). Gas yang dihasilkan dari biogas didominasi oleh metana yakni 55-75% dan karbon dioksida sebanyak 25-45%.

Bagaimana sejarah penemuan biogas?

Jadi, kandungan dalam biogas yakni gas metan sebenarnya telah lama digunakan untuk menghasilkan panas oleh warga Mesir , China, dan Romawi Kuno. Pada tahun 1776, Alessandro Volta, seorang fisikawan Italia yang mempelajari kimia gas, kemudian menemukan gas metan dari proses pembusukan bahan organik di rawa-rawa. Hasil identifikasi gas metan yang dapat terbakar dilakukan oleh Willam Henry pada tahun 1806. Dan di tahun 1882, Becham, seorang murid dari Louis Pasteur dan Tappeiner, pertama kali memperlihatkan pembentukan gas metan secara mikrobiologis. Lalu, riset demi riset dilakukan oleh Jerman dan Perancis hingga selama perang dunia II berlangsung, pemanfaatan biogas sudah dilakukan petani di Eropa untuk menggerakkan traktor. Di Indonesia sendiri, teknologi biogas mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an dan mulai dikembangkan pada tahun 1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas yang diusung oleh Food and Agriculture Organization (FAO).

Lalu, bagaimana biogas itu terbentuk?

Pada umumnya, pembuatan biogas dari limbah kotoran dan limbah rumah tangga dilakukan dalam sebuah reaktor atau digester yang tertutup rapat sehingga tidak ada oksigen yang masuk karena proses yang terjadi yakni secara anaerob. Adapun proses-proses yang terjadi di dalam digester untuk menghasilkan gas metan (CH4) dimulai dari tahap hidrolisis yang mengurai molekul organik komplek menjadi bentuk yang lebih sederhana misalnya karbohidrat, asam amino, dan asam lemak. Selanjutnya tahap asidogenesis, yakni terjadinya penguraian yang menghasilkan amonia, karbondioksida, dan hidrogen sulfide. Kemudian tahap asetagenesis yakni penguraian produk asidogenesis menjadi hidrogen, karbon dioksida, dan asetat. Dan terakhir adalah methanogenesis, yakni menguraikan dan mensintesis produk dari proses asetagenesis sehingga menghasilkan gas metan (CH4), juga hasil lain seperti  karbon dioksida, air, dan senyawa gas lainnya dengan jumlah yang lebih kecil.

Apakah kelebihan dan kekurangan penggunaan biogas?

Gas metan yang dihasilkan oleh biogas ini jika ditampung di sebuah digester lalu ditempatkan dalam sebuah tabung maka dapat berpotensi untuk menjadi alternatif bahan bakar seperti tabung elpiji yang digunakan untuk memasak. Di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pangkep dan Enrekang, bahkan sudah melakukan peluncuran kompor biogas dan uji coba penggunaannya, dan hal tersebut sangat menguntungkan apalagi di kalangan petani yang dapat memanfaatkan limbah pertanian atau kotoran sapinya tidak hanya sebagai bahan baku pembuatan biogas, tetapi juga  dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair sehingga petani dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli pupuk. Adapun kekurangan atau kendala dari penggunaan biogas yakni masalah teknis yang membutuhkan instalasi yang tepat sehingga gas metan terbentuk sempurna. Karena proses yang terjadi adalah anaerob, maka harus dipastikan tidak ada oksigen dari luar yang terlibat selama proses berlangsung. Jadi, perangkaian alat dan pembuatan biogas harus dilakukan dengan teliti.

Nah, sudah terlihat kan betapa bermanfaatnya teknologi biogas ini dalam pengelolaan limbah yang tidak terpakai, seperti limbah pertanian, limbah rumah tangga, atau kotoran ternak yang dapat digunakan lagi sebagai bahan baku pembuatan biogas, bahkan juga dapat menghasilkan pupuk untuk dikembalikan lagi ke tanah sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman.

Semoga bermanfaat!

[am]


Referensi

Anonim. 2012. Biogas. http://kp4.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2014/06/Materi-Biogas.pdf diakses pada tanggal 20 April 2017

Anonim. 2009. Peternak sapi embangkan kompor biogas . http://manado.antaranews.com/berita/12078/peternak-sapi-kembangkan-kompor-biogas diakses pada tanggal 27 April 2017

Anonim. 2016. Bupati Pangkep launching kompor gas di labbakkang. http://makassar.tribunnews.com/2016/12/21/bupati-pangkep-launching-kompor-biogas-di-labbakkang diakses pada tanggal 27 April 2017

Rahmatiah. 2014. Biogas Sebagai Sumber Energi Alternatif. Artikel EBuletin LPMP Sulsel . ISSN. 2355-3189. Desember 2014

Selly. 2010. Sejarah perkembangan biogas. http://sellyr06.alumni.ipb.ac.id/2010/07/16/sejarah-perkembangan-biogas/ diakses ada tanggal 20 April 2017

biogas_23929460_996c83784b335a621f0e9425f5e933e3bfb4fce8

Mengenal “Sampah Makanan”, Salah Satu Kontributor Perubahan Iklim

1 Oct

food-loss-food-waste

Menurut FAO, sampah makanan berarti jumlah sampah yang dihasilkan pada saat proses pembuatan makanan maupun setelah kegiatan makan yang berhubungan dengan prilaku penjual dan konsumennya.

Sampah makanan dapat berasal dari perilaku yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Makanan yang akan tumpah atau membusuk sebelum mencapai produk akhir atau tahap ritel disebut kehilangan makanan / food loss. Hal ini dapat terjadi karena terdapat masalah pada saat panen, penyimpanan, pengepakan, transportasi, infrastruktur atau mekanisme pasar / harga, serta kerangka kerja kelembagaan dan hukum.

Sebagai contoh, pisang yang dipanen jatuh dari truk, dianggap sebagai kehilangan makanan (food loss). Sedangkan, makanan yang layak untuk dikonsumsi manusia, tetapi tidak dikonsumsi karena rusak atau dibuang oleh pengecer atau konsumen disebut limbah makanan. Limbah makanan dapat disebabkan karena buruknya aturan penandaan makanan masuk dan keluar, sehingga banyak makanan yang terbuang percuma karena kadaluwarsa, penyimpanan yang tidak tepat,  dan membeli atau praktek memasak.

Menurut data tahun 2010, Amerika Serikat menghasilkan 34 juta ton sampah makanan dan hanya 3 persen yang mampu di daur ulang kembali. Di Inggris, 1/3 makanan yang dibeli oleh setiap penduduknya berakhir di tempat sampah, yang juga berarti setiap keluarga di Inggris setiap tahunnya membuang makanan seharga 400 poundsterling (5,9 juta rupiah).

Untuk tingkat dunia (data tahun 2010), sampah makanan mencapai 1,3 Triliun ton yang dibuang setiap tahun. Jumlah tersebut merupakan sepertiga dari jumlah makanan yang diproduksi. Dengan rincian 40% sampah makanan yang dihasilkan negara berkembang berasal dari proses produksi, sedangkan untuk industrialized country, menghasilkan 40% sampah makanan pada saat berada ditangan konsumen.

Kenapa Food Loss dan Food Waste adalah sebuah masalah?

Food Loss dan Food Waste menjadi sebuah masalah karena untuk memproduksi makanan yang akhirnya menjadi sampah dan dibuang tersebut, digunakan 25% dari seluruh air bersih yang tersedia atau setara telah menghabiskan 600 kubik kilometer air. Padahal, 1.1 juta orang di dunia tidak memiliki akses air minum.

Selain itu, 300 juta galon minyak bumi dan penebangan hutan seluas 9,7 juta hektar untuk budidaya tanaman pangan, akan menjadi terbuang sia-sia karena makanan yang diproduksi menjadi sampah.

Perlu diketahui dengan membuang makanan tentu saja membuang sumber daya dan energi yang lain. Misalnya kita membuang 1 liter susu, berarti kita juga membuang air yang diperlukan untuk membuat susu itu beserta energi yang diperlukan untuk membuat 1 liter susu. Belum lagi makanan untuk ternak sapi perah susu, bahkan jika sapi tersebut makan rerumputan berarti kita juga membuang air sebanyak yang dibutuhkan untuk menumbuhkan rerumputan tersebut.

Menurut Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Surabaya (ITS), FAO memperkirakan bahwa sepertiga dari produksi pangan global akan terbuang atau hilang. Limbah makanan itu menguras potensi sumber daya alam yang besar, namun justru menjadi kontributor terhadap dampak lingkungan yang negatif.

Setelah berada di tempat pembuangan sampah, makanan rusak akan menghasilkan gas metan. Metana 23 kali lebih kuat daripada CO2 untuk menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca yang memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim saat ini. Menurut FAO, sampah makanan memberikan kontribusi sebesar 8% emisi GHG (Green House Gas).

Karena efek rumah kaca, sinar matahari memancarkan radiasi ultraviolet ke bumi yang akan diterima oleh bumi dan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah. Atmosfer akan meneruskan radiasi inframerah ini ke luar angkasa. Namun karena terdapat gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer akan menghalanginya sehingga dipantulkannya kembali radiasi inframerah ini ke bumi. Ditambah dengan radiasi ultraviolet dari matahari, akan menyebabkan naiknya suhu permukan bumi.

Efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global. Karena itu makanan yang terbuang di tempat sampah berkontribusi  cukup besar terhadap pemanasan global.

Selain daripada itu sisa makanan mengandung konten organik dan kelembaban tinggi, ketika membusuk akan menghasilkan bau menyengat yang akan berdampak serius terhadap lingkungan hidup dan kesehatan kita. Dengan mengurangi sampah makanan, secara tidak langsung kita juga mengurangi resiko terjadinya climate change atau perubahan iklim. Berdasarkan FAO, Jika pemanfaatan makanan dan proses distribusi dapat dioptimalkan atau ditata secara baik, maka 14% dari seluruh emisi GHG yang berasal dari sektor pertanian, dapat direduksi pada 2050.

Apa yang harus dilakukan?

Di beberapa negara di Benua Eropa dan Amerika Serikat, sampah sisa makanan telah menjadi topik pengelolaan sampah yang dibicarakan secara khusus. Di Amerika Serikat pada khususnya, kampanye mengenai food recovery hierarchy telah disebarluaskan kepada masyarakat. Food recovery hierarchy ini mengedapankan pengurangan sampah makanan di sumber dan menjadikan penimbunan di landfill sebagai opsi yang paling dihindari. Sebagai contoh lain, Negara Singapura telah melakukan pilot project daur ulang sampah makanan menjadi bahan kompos dan pembangkit energi pada tahun 2010.

food-waste-recovery-hierarchy

Sedangkan di Indonesia pengelolaan sampah makanan masih dimasukkan ke dalam pengelolaan sampah kota, dimana hal ini akan memperpendek jangka waktu pemakaian landfill itu sendiri, sampah makanan yang mudah terurai dan dapat dikelola secara terpisah tetap ditimbun di dalam landfill.

Menurut Khoo HH et al (2009), dari beberapa alternatif pengelolaan sampah makanan yang tersedia, metode composting dan penggunaan metode anaerobic digestion merupakan metode daur ulang sampah makanan yang cukup berhasil.

MoS2 Template Master

Keunggulan dari metode ini yaitu:

  1. Penggunaan food digester skala rumah tangga perkotaan dapat mengurangi penggunaan LPG 100 kg atau 250 liter minyak tanah yang ekuivalen dengan 300-600 kg CO2/ tahun.
  2. Untuk rumah tangga perdesaan mengurangi 3 ton kayu per tahun yang akan menghasilkan 5 ton CO2 kalau dibakar.
  3. Metana terbakar dengan warna biru tanpa menghasilkan asap yang banyak. Berbeda dengan bahan bakar kayu.
  4. Efluen dari digester dapat digunakan sebagai pupuk cair.

Selain itu, untuk mengatasi masalah sampah makanan ini juga bisa dengan membuat Food Bank. Dimana Food bank berperan sebagai pusat koordinasi makanan sisa dan sumbangan dari berbagai sumber. Mulai dari pabrik makanan, restoran, hingga rumah tangga. Nantinya makanan itu diolah, disimpan, dijual, dan disumbangkan kepada konsumen yang membutuhkan, seperti posko pengungsian, panti asuhan, dan sekolah. Jadi, makanan tidak akan terbuang percuma dan masyarakat yang membutuhkanpun bisa tercukupi makanannya.

Berikut beberapa tips untuk menghindari makanan bersisa:

  1. Jika anda hendak makan direstoran, pilihlah restoran yang menyajikan makanan sesuai dengan porsi makan anda. Hanya memesan makanan yang sekiranya benar-benar akan dimakan dan habis. Atau bisa beralih ke restoran prasmanan di mana kita yang menentukan porsi makanan sendiri
  2. Jika anda hendak mengadakan sebuah acara jamuan makan atau pesta perkirakan jumlah tamu yang akan datang dan sesuaikan dengan banyaknya makanan yang akan dihidangkan. Sisa hidangan pesta yang masih memungkinkan bisa simpan di lemari pendingin. Sehingga nanti bisa dimasak kembali dengan resep yang berbeda sehingga tidak bosan.
  3. Sesuaikan belanjaan bahan makanan dengan menu yang kan dibuat.
  4. Jangan pernah membeli makanan yang cepat busuk jika tidak ingin segera mengolahnya.
  5. Membeli makanan di pasar lokal, agar mengurangi biaya transportasi makanan.

Jangan buang-buang makanan ya!

Salam lestari!


Sumber:

http://www.fao.org/food-loss-and-food-waste/en/

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-09-11/limbah-makanan-emiten-karbon-ketiga-terbesar-di-dunia/1189427

http://www.zetizen.com/show/1284/food-bank-penyalur-sisa-makanan

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2013/07/19/nasib-makanan-terbuang-global-warming/

http://www.banksampahmelatibersih.com/2013/04/fakta-tentang-sampah-makanan-food-waste.html#.V-KmjzXcDmE

http://blh.probolinggokota.go.id/biogas-dari-sampah-makanan-food-digester/

BAKSOS Bersama KOPHI Sulsel : “NGUPAS” (Ngumpul Sampah Dapat Sembako)

25 Jun

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Bulan Ramadhan menjadi ajang berlomba-lomba dalam kebaikan. Salah satu amal kebaikan yang ramai dilaksanakan di bulan Ramadhan ialah bersedekah. Sesuai dengan Ayat di atas, bersedekah merupakan amal ibadah yang tidak mengurangi harta, justru malah akan terus bertambah dan bertambah.

Mengingat pentinganya berbagi, khususnya di bulan yang suci ini, Koalisi Pemuda Hijau Sulawesi Selatan (KOPHI SulSel) menggelar kegiatan Baksos atau Bakti Sosial untuk mengisi kegiatan amaliah Ramadhan pada tahun ini. Namun, dengan tetap berfokus pada peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat, KOPHI sebagai wadah para agen perubahan, menggelar Bakti Sosial yang mengombinasikan antara berbagi dan menjaga kebersihan lingkungan.

Mengusung kegiatan yang bernama NGUPAS (Ngumpul Sampah Dapat Sembako), para anggota Kophi Sulsel terjun langsung ke masyarakat, tepatnya di daerah pemukiman yang terbilang kumuh dan minim kesadaran lingkungan untuk memberikan sosialisasi kepada warga sekitar mengenai pemilahan sampah anorganik dan organik khususnya sampah plastik yang kemudian dirangkaian dengan penukaran hasil pemilahan sampah plastik mereka untuk bantuan berupa sembako. Setiap 1 kg sampah plastik yang berhasil dikumpulkan oleh warga dapat ditukar dengan 1 paket sembako. Dimana dana yang digunakan untuk pengadaan sembako ini berasal dari donasi yang terkumpul di kas KOPHI Sulsel.

1466865830312

suasana NGUPAS (24/06/2016)

1466865828809

Suasana Ngupas (24/06/2016)

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (24/06/2016), di Jalan Gatot Subroto IV Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan ini terbilang kegiatan unik yang dilakukan oleh KOPHI Sulsel. Menurut ketua Panitia NGUPAS, Nadya, Ibarat  sambil menyelam minum air, aksi ini tidak terbatas pada kegiatan bersedekah tetapi juga edukasi gaya hidup hijau pada masyarakat yang tidak hanya kurang secara ekonomi tetapi juga kurang dalam hal pengetahuan akan lingkungan.

Hal ini tentu saja merupakan terobosan baru yang dilakukan oleh KOPHI Sulsel sekaligus menginspirasi para penggiat lingkungan lainnya untuk dapat melakukan aksi kampanye hijau dengan metode yang kreatif nan efektif.

Salam Lestari!

[zah]

Memahami Lebih Jauh : Hari Tanpa Tembakau Sedunia

31 May

Pagi ini seperti biasa aku sudah siap untuk menuntut ilmu. Kemeja, jeans, dan tas selempang sudah rapih melekat di tubuhku dengan sentuhan minyak wangi yang membuat ibu-ibu tetangga menggoyangkan hidung mereka jika aku lewat nanti.

Setelah berdiri di pedestrian jalan cukup lama, akhirnya mobil merah berplat kuning yang kami sebut dengan pete-pete atau di belahan Indonesia lain menyebutnya angkutan kota berhenti di hadapanku sambil membunyikan klaksonnya tak lupa sopirnya membujuk dengan kalimat persuasif nan ampuh, “Langsung jalan.. langsung jalan..”

Karena dikejar waktu, aku langsung melompat naik ke kursi penumpang pete-pete.

“Uhuk…uhukk..” refleks saja aku terbatuk begitu duduk manis. Wewangian yang tadi kupakai rasanya sudah menguap di udara bebas dan digantikan dengan bau tembakau terbakar dengan asap mengepul yang mengisi sebagian pete-pete.

Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari si biang kerok, seluruh penumpang yang hampir seluruhnya anak kuliahan dan anak-anak pun sudah menutup hidung mereka sambil sesekali mengipas-ngipas udara kosong agar terhindar dari kepulan asap. Di ujung kursi aku melihat, seorang pria paruh baya tengah asik mengisap sebatang rokok sambil membuang muka. Seolah-olah tak peduli akan nasib generasi bangsa yang Ia racuni..

***

Cerita di atas merupakan potret kisah pilu pengguna transportasi umum di kota Makassar, dimana seharusnya diberikan kenyamanan, justru malah harus menanggung beban menjadi perokok pasif karena penumpang lainnya yang tidak paham akan bahaya asap rokok. Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 115 ayat 1 menyebutkan bahwa salah satu kawasan tanpa rokok adalah Angkutan Umum.

Tetapi, sepertinya refleksi Undang-undang tersebut belum tercermin dari perilaku masyarakat yang masih sering merokok di tempat umum. Bukan hanya penumpang, tetapi sopir pun kadang menjadi biang kerok sumber polusi asap rokok di kendaraan umum. Padahal, selain melanggar hak asasi manusia, merokok juga mengancam kesehatan dan lingkungan bahkan  hak hidup atas setiap warga negara.

Survei yang diadakan oleh Yayasan Jantung Indonesia tahun 1990 yang dikutip oleh Saifuddin Azwar  mengatakan bahwa “pada anak-anak berusia 10-16 tahun sebagai berikut : angka perokok <10 tahun (9%), 12 tahun (18%), 13 tahun (23%), 14 tahun (22%), dan 15-16 tahun (28%). Mereka yang menjadi perokok karena dipengaruhi oleh teman-temannya sejumlah 70%, 2% diantaranya hanya coba-coba. Selain itu, menurut data survei kesehatan rumah tangga 2002 seperti yang tercatatat dalam koran harian Republika tanggal 5 juni 2003, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 75% atau 141 juta orang. Sementara itu, dari data WHO jumlah perokok di dunia ada sebanyak 1,1 miliar orang, dan 4 juta orang di antaranya meninggal setiap tahun.”

Bukan hanya merugikan sang perokok, tetapi rokok juga merugikan orang yang terkena paparan asap rokok.  Dalam asap rokok terdapat sekitar 4000 senyawa kimia, termasuk diantaranya 70 bahan yang diketahui atau memiliki kemungkinan bersifat karsinogen bagi manusia. Dampak kesehatan dari kecanduan tembakau yang didalamnya termasuk rokok meliputi : berbagai jenis kanker seperti kanker mulut dan paru, penyakit jantung, stroke dan masalah vaskular lainnya, penyakit dan masalah pernafasan seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan sulit bernafas, serta komplikasi reproduksi seperti keguguran dan kemandulan. Coba bayangkan jika ibu hamil dan anak-anak yang merupakan penerus masa depan bangsa dijejali dengan asap rokok oleh-oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan, bukan?

Pertumbuhan rokok Indonesia pada periode 2000-2008 adalah 0.9 % per tahun. WHO pun mengingatkan bahwa rokok merupakan salah satu pembunuh paling berbahaya di dunia. Pada tahun 2008, lebiih 5 juta orang mati karena penyakit yang disebabkan rokok. Ini berarti setiap 1 menit tidak kurang 9 orang meninggal akibat racun pada rokok. Angka kematian oleh rokok ini jauh lebih besar dari total kematian manusia akibat HIV/AIDS, tubercolis, malaria dan flu burung.

Asap rokok juga dapat mencemari udara dengan lebih dari 69 bahan kimia penyebab kanker, termasuk tar, arsen, benzena dan kadmium. Berikut ancaman rokok terhadap kerusakan lingkungan hidup, yang disampaikan oleh Mochamad Zamroni – aktivis Tunas Hijau (dalam theklc.wordpress.com), diantaranya :

1.      Puntung rokok membutuhkan waktu 1,5 – 2,5 tahun untuk terurai dalam tanah
2.      Puntung rokok dapat terurai di air tawar sekitar satu tahun dan dapat terurai di air laut/air asin sekitar lima tahun.
3.      Diperkirakan 4,5 trilliun puntung rokok dibuang tidak pada tempatnya (sembarangan) setiap tahun di seluruh dunia
4.      Pada tahun 2005, sekitar 24 milliar rokok terjual di Australia. Dari jumlah ini sekitar 7 milliar puntung rokok dibuang sembarangan
5.      Sekitar 100.000 ton polusi udara  dihembuskan oleh perokok di New South Wales, Australia setiap tahunnya
6.      Menurut survei yang dilakukan oleh Tunas Hijau pada tahun 2005, 39 dari 40 perokok di Jawa Timur membuang puntungnya di sembarangan tempat.
7.      Satu puntung rokok dapat tetap menyala selama tiga jam dan menyebabkan kebakaran rumput dan semak-semak
8.      Lebih dari 4500 kebakaran setiap tahun terjadi dunia yang disebabkan oleh rokok dan material perokok
9.       Puntung rokok mungkin terlihat kecil, tetapi dengan estimasi 4,5 trilliun puntung rokok yang dibuang sembarangan di seluruh dunia setiap tahun, maka bahan-bahan kimia berbahaya pun sangat meningkat.
10.  Puntung rokok mengandung bahan kimia berbahaya seperti cadmium, arsenic dan timah yang secara parsial dilepaskan ke udara selama proses merokok yang menambah menurunkan kualitas udara sekitar.
11.  Ketika puntung-puntung rokok dibuang, angin dan hujan membawanya ke saluran air. Kimia beracun yang dikandungnya kemudian dilarutkan pada ekosistem air dan mengancam kualitas air dan kehidupan air.
12.  Puntung rokok menjadi salah satu isu penting dari jenis sampah yang dibuang sembarangan. Permasalahan sampah ini terus meningkat dengan adanya peraturan pemerintah yang melarang aktivitas merokok di dalam ruangan seperti restoran, perkantoran dan fasilitas umum.
13.   Setelah dibuang, puntung rokok yang masih menyala bisa bertahan hingga 3 jam. Dengan 4000 bahan kimia beracun yang dikandungnya, maka hampir tiap detik selalu ada racun yang dilepaskan
14.  Burung dan hewan-hewan laut sering menganggap puntung rokok sebagai makanannya, yang mengakibatkan rusaknya saluran pencernaan makanan dan kematian. Di seluruh dunia puntung rokok sering ditemukan di perut burung-burung yang mati muda, kura-kura dan hewan laut lainnya
15.  Permasalahan serius lainnya adalah bahan beracun kadmium dan timah yang dikandung puntung rokok dapat larut semuanya setelah puntung rokok tersebut berada di air selama satu jam.

Selain mencemari lingkungan dan merugikan kesehatan manusia, cukai rokok menyumbang lebih dari 60 trilliun rupiah setiap tahunnya yang tidak sebanding dengan biaya perawatan kesehatan yang dikeluarkan akibat dampak rokok yaitu sebesar tiga kali lipatnya.

1464697406349

Pada hari ini, 31 Mei 2016 diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day. Hari Tanpa Tembakau Sedunia pertama kali diperkenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 31 Mei 1989 untuk mendorong kesadaran masyarakat di seluruh dunia agar mengurangi atau menghentikan konsumsi tembakau dalam bentuk apapun. Perayaan ini sekaligus bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat global untuk menyebarkan pesan tentang efek berbahaya penggunaan tembakau dan dampaknya terhadap orang lain.

Tema yang diusung oleh WHO untuk memperingati hari tanpa tembakau sedunia tahun 2016 ini adalah “Bersiaplah untuk Kemasan Polos” dengan tujuan untuk mengurangi ketertarikan terhadap produk tembakau. Menurut WHO, hal tersebut penting untuk mengurangi daya tarik produk tembakau, membatasi penggunaan kemasan tembakau sebagai bentuk iklan dan promosi, pelabelan dan kemasan yang menyesatkan, serta mengefektifkan peringatan bahaya kesehatan.

Australia menjadi negara pertama yang telah mengimplementasi kemasan polos produk tembakau pada tahun 2012. Sejumlah negara termasuk Irlandia, Inggris dan Perancis telah meresmikan hukum untuk mengimplementasikan kemasan polos dan tengah memasuki tahap pertimbangan untuk mengimplementasikannya.

Bagaimana dengan Indonesia? Semoga Indonesia juga segera mengimplementasikan kemasan polos rokok tersebut. Selain itu, semoga masyarakat Indonesia juga lebih paham tentang “Merokok Pada Tempatnya” sehingga kerugian akibat asap rokok bisa direduksi seminimal mungkin.

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia! Salam lestari!

[zah]

Sumber:

Prasetya, Lukyta Dwi. 2012. Pengaruh Negatif Rokok bagi Kesehatan di Kalangan Remaja [pdf]

Saifuddin Azwar. 1997 Reabilitas dan Validitas. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal 19.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/hari-tanpa-tembakau-sedunia-2016-bersiaplah-untuk-kemasan-polos

http://dewirokhmah.blogspot.co.id/2016/05/memperingati-world-no-tobacco-day-1-mei.html

https://theklc.wordpress.com/2014/01/12/pengaruh-rokok-terhadap-kerusakan-lingkungan-hidup/

 

 

 

 

 

Sustainable Living di Makassar

30 Apr

Seiring dengan berjalannya waktu, kata “sustainable” kian populer dikalangan pemerintah maupun masyarakat. Entah itu sustainable development, sampai kepada sustainable energy. Namun, banyak orang yang melupakan satu “sustainable” penting yang memiliki dampak besar dan dapat memengaruhi sustainable-sustainable lainnya yaitu sustainable living.

Apa sih Sustainable Living itu?

Sustainable living jika diartikankan dalam bahasa Indonesia berarti kehidupan yang berkelanjutan. Kehidupan yang berkelanjutan disini maksudnya adalah kehidupan dengan pola hidup yang ramah lingkungan dimana penggunaan sumberdaya dilakukan seminimal mungkin sehingga dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan menjadi seminimal mungkin pula agar generasi selanjutnya dapat tetap menikmati sumberdaya yang ada.

Berbicara mengenai pola hidup ramah lingkungan sudah tidak asing di telinga kita, apalagi sejak isu-isu lingkungan menjadi booming dikalangan masyarakat, kampanye ramah lingkungan pun gencar dilakukan bersamaan dengan dikeluarkannya produk-produk ber-ecolabel.

Hanya saja, di kota Makassar, yang merupakan kota metropolitan dengan perkembangan pembangunan yang kian pesat, pola hidup berkelanjutan/ramah lingkungan masih sangat minim diterapkan di kalangan masyarakat. Meskipun sudah banyak program-program “kreatif” pemerintah untuk memperbaiki lingkungan di Makassar, tetapi masyarakat seolah tutup mata dan kembali pada pola hidup “primitive” mereka, seperti: buang sampah sembarangan, menggunakan kemasan plastik, hingga menggunakan kendaraan bermotor meskipun jarak yang ditempuh cukup dekat.

Menurut youth speak forum, di seluruh dunia, telah terjadi peningkatan dalam penanganan permasalahan yang berkaitan dengan sustainable living dari berbagai sektor. Mulai dari peningkatan ketersediaan air bersih, peningkatan pendapatan masyarakat yang berdampak pada penurunan angka kemiskinan hingga 50%, sampai kepada penurunan angka kematian bayi. Hal tersebut dikarenakan adanya keberanian masyarakat khususnya kaum muda dalam menyuarakan kepeduliannya terhadap permasalahan yang terjadi di sekitar mereka.

Menilik hal tersebut, kota Makassar masih memiliki harapan yang besar untuk berbenah diri dalam menciptakan sustainable living ditengah-tengah masyarakatnya. Asalkan, ada pemuda(i) yang berani bersuara mengkritisi permasalahan yang ada dan tentunya memberikan contoh ke lingkungan sekitarnya dan juga memberi solusi sebagai tindaklanjutnya. Namun, untuk hasil yang lebih efektif, dalam menerapkan sustainable living ini harus dilakukan selangkah demi langkah. Artinya, fokus ke salah satu permasalahan yang ada hingga selesai, lalu kemudian pindah ke permasalahan yang lainnya.

Akhir kata, “LET’S YOUR VOICE TO BE HEARD”. Salam Lestari!

Mengapa Terjadi Krisis Air Bersih?

8 Apr

“Bismillahirrohmanirrohim, Semoga dapat menambah khazanah pengetahuan teman-teman pembaca”

~~

Setiap kehidupan, mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Dalam menjalani proses tersebut dibutuhkan suatu sumber kehidupan. Air adalah sumber kehidupan. Contohnya dalam kehidupan manusia. Tubuh manusia memerlukan air. Sekitar 50-78% tubuh manusia mengandung air. Air juga dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, atau keperluan yang lain. Begitu penting peranan air dalam kehidupan.

Di Bumi, perbandingan antara daratan dengan perairan itu sangat signifikan. 30% bumi adalah daratan, dan 70%-nya adalah perairan. Jadi, bisa dikatakan sumber daya air di bumi begitu melimpah. Namun, bukan berarti kesemua air yang ada di bumi tersebut bisa dimanfaatkan secara langsung.

lala

Tabel Kuantitas Air

Sebanyak 97,3% air di bumi adalah air laut. 2,7% sisanya adalah air tawar. Dari 2,7% air tawar, 2,1% adalah berupa es/glacier. Air yang biasa kita manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari adalah air tanah. Namun, jumlahnya sangat kecil, yakni berkisar 0,6% dari total jumlah air di dunia.

 

Siklus Hidrologi

Air mengalami suatu siklus, yang disebut siklus hidrologi. Sederhananya, terdapat tiga tahap siklus hidrologi.

  1. Presipitasi (Hujan)
  2. Evaporasi (Penguapan)
  3. Run Off (Limpasan)
siklus-air-dan-tahapan-lengkap

Siklus Hidrologi

Gambar: Gambaran Siklus Hidrologi.

alal

Tabel Keberadaan Air

Jika kita lihat di tabel, jumlah air dalam presipitasi dan evaporasi itu sama. Jadi, bisa dikatakan jumlah air itu konstan. Jumlahnya tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah. Sama seperti sifat mutlak energi yang tidak dapat berkurang maupun bertambah, melainkan hanya berubah wujud. Air juga begitu, jumlah air itu konstan, akan tetapi, terkadang di wilayah tertentu mengalami kekurangan air, namun di wilayah yang lain air begitu melimpah ruah.

Lalu, Jika air itu berkurang, jumlahnya tetap, lalu mengapa masih terjadi krisis air?

 

Penyebab Krisis Air.

  1. Perilaku Boros Air

Sudah sangat jelas, perilaku boros air menyebabkan krisis air. Lupa menutup keran, membiarkan air meluap begitu saja, berlebihan menggunakan air saat mandi, mencuci, dan lain-lain merupakan perilaku boros air. Kebanyakan orang berpikir bahwa air itu gratis atau murah. Sehingga menimbulkan pemikiran bahwa air itu adalah sesuatu yang melimpah dan kurang berharga.

  1. Pertambahan jumlah penduduk.

Pada tahun 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa. Pada Tahun 2013, penduduk Indonesia bertambah menjadi 249,9 juta jiwa. Selisih tiga tahun, jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar 12,3 juta jiwa. Jika diasumsikan seseorang menggunakan air sebanyak 300 ltr/hari untuk semua aktivitasnya, maka kebutuhan air untuk seluruh penduduk Indonesia bertambah sekitar 3,69 Miliar liter/ Hari. Sementara, air itu konstan, tidak bertambah.

  1. Tekanan Lingkungan dan Perilaku Konsumtif dari Industri dan Pertanian.

Bertambahnya jumlah penduduk, maka bertambah pula jumlah industri dan jasa serta tak lupa juga sektor pertanian. Mengapa dikatakan perilaku konsumtif dan juga tekanan lingkungan?

~

Contoh kasus:

Suatu industri pembangkit listrik biasanya terletak di dekat sumber air, baik itu sungai, danau, maupun laut. Mengapa? Karena setiap harinya, pembangkit listrik itu membutuhkan sekiranya ratusan ribu liter air untuk dimasukkan ke dalam sistem pendingin mesin dan selanjutnya digunakan untuk mendinginkan mesin yang terus menerus beroperasi sepanjang waktu.

Air yang telah digunakan untuk mendinginkan mesin mau tidak mau akan dimasukkan kembali ke badan air dalam bentuk limbah. Limbah air tersebut biasa disebut limbah bahang/air panas. Terjadilah suatu polusi lingkungan, yang disebut polusi thermal yang dapat merusak badan air maupun organisme-organisme yang berada di dalam badan air. Polusi inilah yang dapat menyebabkan air dari badan air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.

  1. Intrusi Air Laut.

Intrusi air laut adalah masuknya air laut ke dalam tanah untuk menggantikan posisi air tanah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain; Rusaknya kawasan konservasi pesisir sehingga menyebabkan minimnya penghalang/pembatas antara kawasan laut dengan daratan; Pemanfaatan air tanah yang berlebih sehingga menyebabkan adanya ruang kosong di dalam tanah sehingga dapat membuat air laut mengisi ruang tersebut; serta dapat juga terjadi jika permukaan muara air sungai lebih rendah dari permukaan air laut sehingga dapat menyebabkan air laut masuk ke badan sungai saat pasang.

  1. Kerusakan Sumber Daya Air

1. Sungai

Pada umumnya kerusakan sungai diakibatkan oleh pencemaran limbah industri maupun limbah domestik. Jika sungai sudah mengalami kerusakan, maka air sungai sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

2. Danau

Danau dapat terjangkit suatu “penyakit”. “Penyakit” yang biasanya diderita oleh danau adalah pendangkalan dan eutrofikasi. Pendangkalan dan eutrofikasi pada danau pada umumnya disebabkan karena adanya kegiatan pertanian maupun peternakan di sekitar danau. Erosi pada pinggir danau dapat menimbulkan pendangkalan. Eutrofikasi adalah penyuburan pada wilayah danau. Senyawa utama yang mengakibatkan eutrofikasi adalah Phospat. Phospat biasanya berasal dari limbah domestik, pupuk pertanian, maupun dari limbah perikanan (sisa makanan ikan, dsb). Hal ini menyebabkan air menjadi terlalu subur, lalu tumbuhlah berbagai tanaman air dengan pesat. Tumbuhan tersebut dapat menutup permukaan danau. Tumbuhan memiliki daya volatile/volatilitas/menguapkan air. Akibat pesatnya jumlah tumbuhan serta terjadinya pendangkalan danau, pada akhirnya akan menyebabkan berkurangnya kuantitas/jumlah air dalam danau.

6999598154_f284407cb9_b

Pendangkalan Danau Mawang, Kab. Gowa

Gambar: Danau Mawang, Kab. Gowa. Salah Satu Danau Yang Mengalami

               Pendangkalan dan Eutrofikasi

3. Cekungan Air Tanah (CAT)

Akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan, maka dapat menyebabkan rusaknya cekungan air tanah. Hal ini dapat berdampak terhadap siklus air tanah, kualitas, maupun kuantitas air tanah.

 

Land Subsidence/Penurunan Muka Tanah.

Sangat banyak manusia yang menggunakan air tanah. Hampir setiap rumah, memiliki sumur bor. Air tanah dieksploitasi secara terus-menerus. Akibatnya, timbulah ruang kosong di dalam tanah. Tanah di lapisan atas menurun ke bawah mengisi ruang-ruang kosong tersebut karena beban diatasnya. Hal ini menyebabkan permukaan tanah menurun. Faktanya yang paling signifikan adalah penurunan level muka tanah di wilayah perkebunan San Joaquin Valley, California, US. Dari kurun waktu 50 tahun, dari tahun 1925-1977, permukaan tanahnya menurun hingga 9 meter.

land-subsidence-poland-calif

Land Subsidence

Gambar: Penurunan Muka Tanah di San Joaquin Valley, California

  1. Distribusi Air Kurang Merata

Cakupan pelayanan air di Indonesia masih rendah. Pada tahun 2008, wilayah perkotaan hanya 47% wilayahnya yang dijamah oleh layanan PDAM. Di pedesaan hanya sekitar 12% yang mendapatkan layanan distribusi air bersih. Selain itu, adanya pula kesulitan dalam pendanaan untuk pengembangan dan operasional jaringan distribusi karena rendahnya tarif dan beban utang. Tingkat kehilangan air juga tinggi (33%) serta tekanan air di jaringan distribusi masih rendah, sehingga walaupun di suatu wilayah terdapat suatu jaingan distribusi, akibat tekanan air di jaringan pusat rendah, air pun tidak sampai menjangkau wilayah tersebut (Prof. Mary Selintung, dalam bukunya; Pengenalan SPAM).

  1. Pengelolaan Air yang Kurang Maksimal

Perubahan iklim membuat kita sulit untuk memprediksi cuaca. Ketika panas, temperatur sangat tinggi, bahkan dapat mencapai suhu ekstrim. Begitupun sebaliknya. Ketika Hujan, sangat deras. Air melimpah ruah. Banjir dimana-mana. Namun, air banjir ini tidak dapat kita kelola. Air ini melimpas ke laut begitu saja. Hal ini disebabkan karena sistem pengelolaan (drainase) yang buruk.

“Ketika hujan, aliran limpasan yang dapat dimanfaatkan hanya 25% saja. Tiga perempat lainnya terbuang percuma ke laut” (Sjarief dan Koedati, 2005)

~~

Dari sekian penyebab masalah krisis air, tentu ada solusi untuk menangani, maupun untuk mencegahnya. Solusi tersebut menurut penulis secara garis besar ada tiga. Yaitu melalui optimasi penyaluran air bersih, optimasi pasokan air bersih, dan optimasi penyimpanan air bersih.

  1. Optimasi Penyaluran Air Bersih

Hal ini dimaksudkan, agar semua lapisan penduduk dapat menikmati air bersih. Penduduk pelosok tidak lagi mengeluarkan tenaga maupun biaya tambahan untuk mendapatkan air bersih. Memperbanyak IPA (Instalasi Pengolahan Air) agar bisa menjangkau wilayah pelosok maupun wilayah yang belum terjamah oleh layanan air bersih.

  1. Optimasi Pasokan Air Bersih

Untuk dapat kita manfaatkan, air harus memenuhi tiga syarat;

  • Kualitas

Sumber daya air tersebut harus bebas dari bahan pencemar, atau memenuhi standar baku mutu untuk dapat dikonsumsi airnya

  • Kuantitas

Sumber daya air tersebut mengandung/memiliki potensi air yang dapat mewadahi banyak orang untuk dikonsumsi

  • Kontinuitas

Sumber daya air tersebut harus tetap ada/konsisten keberadaannya dan bisa dimanfaatkan airnya secara terus menerus/berkesinambungan.

Oleh karena itu, kita harus menjaga keberlangsungan sumber daya air agar dapat kita manfaatkan potensi airnya. Jangan membuang sampah sembarangan ke badan sungai. Untuk industri, air limbah harus melewati Unit Water Treatment dan limbahnya harus memenuhi standar baku mutu sebelum dibuang ke badan sungai/laut/danau.

  1. Optimasi Penyimpanan Air Bersih
  • Hemat air. Save Water, Save
  • Membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH)

RTH selain berperan sebagai reduktor pencemaran udara, juga berfungsi sebagai lahan resapan air. Jadi, keberadaan RTH sangatlah penting. Mengingat RTH Publik Kota Makassar yang begitu minim, maka kita sebagai penduduk Kota Makassar seyogiyanya menambah jumlah RTH privat. Sisakan lahan sebanyak 10% saja dari luas total lahan rumah untuk dijadikan RTH maupun lahan resapan.

  • Rainfall dan Run Off Harvesting

Rainfall Harvesting dapat dilakukan dengan membuat Sistem Pemanenan Air Hujan (SPAH). Air hujan kita tamping dalam suatu wadah, untuk dimanfaatkan ketika tidak terjadi hujan.

Run Off Harvesting

Dengan membuat biopori/lubang resapan. Hal ini dimaksudkan agar air hujan tidak melimpas percuma. Dengan membuat biopori, sama halnya dengan kita menabung air di dalam tanah, untuk dimanfaatkan di kemudian hari.

  • Merancang Sistem Drainase yang Baik.

Agar saat hujan air tidak melimpas percuma, maka sepatutnya kita membangun suatu sistem drainase yang baik. Dimana air yang melimpas ketika hujan melewati berbagai tahap dari sistem drainase, yang pada akhirnya terkumpul di suatu wilayah rendah/danau/waduk buatan. Waduk buatan untuk menampung limpasan banjir ini biasa disebut waduk tunggu. Saat ini Makassar hanya mempunyai satu waduk tunggu. Danau Borong itulah yang merupakan satu-satunya waduk tunggu di Kota Makassar. Rencana akan dibangun empat lagi waduk tunggu yang bertempat di wilayah yang menjadi langganan banjir, yaitu; Kecamatan Tamalanrea, Pacerakkang, Manggala, dan Moncongloe

  • Membangun Sistem Manajemen Pengelolaan Air Terpadu

Dapat diwujudkan dengan membangun bendungan. Banyak persoalan mengenai air terjadi karena kurang baiknya manajemen pengelolaan sumber daya air.Untuk mengatasi hal tersebut, maka dibangunlah suatu bendungan. Fungsi utamanya adalah menampung air ketika berlebihan, dan dipergunakan untuk musim kemarau. Bendungan Bili-bili.

Pada tahun 70-80an, banjir selalu melanda kawasan hilir Sungai Jeneberang di Kota Makassar. Air melimpah, tapi hanya menjadi banjir saja, menjadi bencana. Bendungan Bili-bili dibangun untuk mengatasi hal tersebut. Selain itu, Bendungan Bili-bili adalah bendungan serba guna. Dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Melalui suatu sistem terpadu, kita dapat mengatur berapa jumlah air yang diperlukan untuk keperluan air minum, keperluan irigasi, keperluan listrik, maupun air yang dilepaskan ke badan sungai agar aliran sungai tetap terjaga. Selama dibangun dan beroperasi sejak tahun 1985, bendungan tersebut telah berfungsi dengan baik, sebelum bencana longsor Gunung Bawakaraeng di tahun 2004.

 

Imam Aprianto

imamapri07@gmail.com

 

Pertanyaan:

  1. Bagaimana solusi konkret dari pencemaran limbah cair domestik dan industri yang dibuang ke sumber air? (Pertanyaan Sdr. Nadya)

Jawaban:

Solusi terbaiknya adalah mencegah air limbah mencemari sumber daya air. Hal ini dapat dilakukan dengan;

  1. Membuat water treatment plan untuk industri. Agar pada proses akhir ketika akan dibuang ke badan sungai/danau sudah memenuhi standar baku mutu.
  2. Untuk limbah domestik, dapat dibuat dengan IPAL Komunal. Limbah kotoran dari tiap rumah dikumpul dalam suatu IPAL, dimana di dalam IPAL Komunal itu berisi sejumlah bakteri yang berfungsi untuk mengurai kotoran tersebut. (Jawaban dari Kanda Jumran)

Jika bahan pencemar sudah terlanjur masuk ke badan sungai, maka dapat direkayasa suatu terjunan kecil pada sungai. Terjunan ini adalah wujud dari prinsip aerasi, dimana kandugan kimia air akan berkurang akibat teroksidasi oleh oksigen dari udara bebas. (Jawaban dari Imam)

  1. Apa solusi untuk mengatasi Intrusi Air laut ketika air laut sudah terlanjur mencemari air tanah? Selain metode reverse osmosis karena biayanya yang mahal (Pertanyaan dari Sdr. Nisa)

Jawaban:

Sebenarnya ada lagi satu metode yang lebih murah dibandingkan RO untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Yaitu metode destilasi. Prinsipnya sederhana, memanaskan air laut lalu mengambil air uapnya yang telah menjadi tawar. Tapi, juga cenderung kurang efektif. Jadi Solusi terbaiknya adalah mencegah intrusi air laut itu sendiri. Salah satu caranya ialah dengan menanam tanaman Mangrove. (Jawaban dari Imam)

  1. Bagaimana cara mencegah Land Subsidence/Penurunan Level Muka Tanah di wilayah komersil? Seperti yang kita ketahui daerah komersil menggunakan air tanah dengan jumlah yang banyak untuk keperluannya. Sehingga sangat berpotensi terjadinya penurunan muka tanah di wilayah tersebut. (Pertanyaan dari Sdr. Wahid)

Jawaban:

Setahu saya, sudah ada beberapa hotel/perusahaan komersil di Makassar yang mempunyai unit pengolahan air tersendiri. Jadi, air limbahnya diolah, untuk dimanfaatkan kembali. Prosesnya berlangsung terus menerus. Ketika menjadi air limbah, diolah kembali lagi menjadi air bersih, sehingga tidak perlu lagi banyak-banyak menggunakan air tanah sebagai sumber airnya (Jawaban dari Sdr. Dwici)

Permasalahan ini bisa dianalogikan seperti masalah pencemaran udara. Untuk mengatasi pencemaran udara pada suatu industri, pada umumnya dilakukan penanaman pohon. Satu pohon dianalisis, seberapa besar kemampuannya untuk menyerap bahan pencemar udara, dan seberapa luas wilayah jangkauannya. Hal ini menjadi rujukan untuk menghitung seberapa banyak pohon yang akan ditanam, untuk mengatasi polusi udara dari suatu kegiatan industri. Sama halnya dengan permasalahan penurunan level muka tanah. Tapi, dalam hal ini, untuk mengatasinya maka dibuatlah suatu biopori. Satu biopori dianalisis, seberapa banyak air yang terserap. Hal tersebut menjadi rujukan bagi suatu perusahaan komersil untuk menghitung, seberapa banyak biopori yang akan dibuat dan seberapa air yang terserap, agar tidak terjadi penurunan level muka tanah. (Jawaban dari Kanda Ardi)