Archive | Isu Lingkungan RSS feed for this section

Social Media For Social Good Makassar

22 Mar

IMG_7420

Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat mengadakan Workshop Social Media for Social Good, yang dikaitkan dengan isu-isu lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Tree Makassar, pada Sabtu-Minggu (21-22/03/2015).

Social Media for Social Good adalah program kerja Kedutaan Besar Amerika Serikat yang dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia yaitu Jambi, Makassar, Bangka, Samarinda, Kupang dan Ternate. Sejauh ini, kegiatan tersebut sudah terlaksana di dua kota yaitu Jambi dan di Makassar.

Pada hari pertama, workshop mengangkat tema pemanfaatan media sosial sebagai media kampanye lingkungan.  “Media sosial bisa menjadi sumber informasi bagi masyarakat khususnya komunitas seperti komunitas lingkungan untuk mengkampanyekan kegiatannya ataupun sebagai sumber edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Mansyur Rahim, Penggiat Sosial Media sekaligus pembicara dalam workshop hari pertama.

Di hari kedua, workshop mengankat tema tentang pengelolaan limbah serta daur ulang sampah. Materi pertama dibawakan oleh Muh.Subhan Anugrah selaku ketua KOPHI SulSel yang membahas mengenai pengelolaan limbah secara umum, kemudian Bapak Muhammad Safri dari PT. Mars Food Indonesia mengenai bagaimana PT.Mars Food Indonesia mengelola Limbah mereka, serta kak Gita Syahrani dari Kreasi Daur Ulang Indonesia yang membahas mengenai pemanfaatan limbah menjadi kreasi yang memiliki nilai jual.

Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 60 peserta yang sebelumnya telah melewati tahap seleksi. Hadir juga perwakilan dari pusat pengelolaan ekoregion Sulawesi & Maluku, BLHD Kota Makassar, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar serta Carolina Escalera dari US EMBASSY.

Dari kegiatan ini kami berharap agar kedepannya media sosial tidak hanya digunakan sebagai wadah untuk “curhat”, namun juga dimanfaatkan sebagai wadah untuk kampanye terkait isu-isu lingkungan disekitar kita. Melihat Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak, maka jelas bahwa kampanye melalui media sosial akan benar-benar sangat efektif.

 

 

Pembangunan Jalan Maros-Bone Ancam Ekosistem Karst, Mengapa?

6 Oct

 

Antara tebing karst dan pepohonan, Indra berhenti. Dia menunjukkan tikungan tajam sembari menceritakan rencana pemerintah daerah akan membangun jalan dari Maros menuju Bone. Sepeda motor terus melaju dengan hati-hati.

Jalan ini melintas sepanjang 148 kilometer melalui pegunungan karst, dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusuraung sepanjang 11 kilometer. Pegunungan ini merupakan hamparan karst kedua terbesar di dunia.

“Iya jalan lama ini, nanti tak akan digunakan lagi. Jalan baru akan melayang di atas bukit.” Dia menunjukkan beberapa tebing karst yang akan dipangkas karena perlebaran jalan.

Indra Perdana, adalah staf Balai TN Bantimurung Bulusuraung. Sepanjang perjalanan, dia menyebut beberapa nama pohon dalam bahasa latin yang berdiri di sisi jalan.

Menurut dia, beberapa titik yang akan dilalui jalan adalah habitat  monyet endemik Sulawesi (Macaca maura) mencari makan.  “Apa pohon untuk pakan macaca? Pikus (Ficus sp). Akan kutunjukkan,” katanya.

Pikus adalah pohon berbatang kuat. Diameter bisa sampai satu meter. Akar menyembul diantara batuan karst dan beberapa memiliki akar gantung. Pikus menjulang tinggi, buah untuk pakan satwa liar seperti monyet dan burung. “Pikus makanan utama Macaca maura. Jika pohon ini hilang rantai makanan akan putus.”

Pakar Kehutanan Universitas  Hasanuddin Amran Ahmad, angkat bicara. Amran menjadi bagian tim independen Kementerian Kehutanan, bertugas menganalisis rencana pembangunan jalan. “Saya minta Amdal. Saya liat dan telisik. Itu kacau sekali. Amdal dibuat umum, tanpa ada kajian khusus untuk wilayah taman nasional. Itu tidak boleh seperti itu,” katanya.

Menurut dia, segala macam aspek dan proses ekologi harus dijaga sedemikian baik jangan sampai merusak. “Pembangunan harus menjaga lingkungan. Kita tak anti pembangunan namun harus memperhatikan efek lingkungan.”

Titik pertama pembangunan jalan layang di Desa Pattunuang. Menanjak dan memutari bukit. Kemudian masuk ke jalan lama, melayang hingga di area Karaenta–tanam nasional yang menjadi habitat monyet, ebony dan pikus tumbuh subur . “Itu jalur yang riskan.”

Awal September 2014, Amran bersama Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI, Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Dinas Kehutanan provinsi dan Maros, serta beberapa instansi terkait, kunjungan lapangan.

Amran mengatakan, jalur jalan layang dan titik pelebaran mancapai tujuh meter, merupakan wilayah jelajah Macaca. Macaca, hidup berkelompok. Satu kelompok dari 30–40 ekor. “Pikus tak boleh ditebang. Jika ingin melebarkan jalan ambil sisi lain, jangan menerabas karst yang ditumbuhi pikus besar.”

Kelompok-kelompok Macaca ini memiliki teritori sendiri. Tak ada anggota kelompok lain dapat bergabung dengan kelompok satunya. Jika pakan satu kelompok hilang, kelompok lain tak boleh memasuki area kelompok lain. Jika terjadi akan ada pertengkaran.

Tak hanya itu, di beberapa titik jalan di tebing, dua sisi jalan berdiri pohon saling bersentuhan, sebagai koridor satwa. “Jika jalan diperlebar, semua harus diperhitungkan. Semua harus jelas. PU (Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional VI) harus menghitung ada berapa kelompok Macaca yang teritori melintasi jalan. Itu harus dibuatkan koridor masing-masing,” kata Amran.

Aliran air bawah tanah

Ketika Amran meminta menunjukkan titik bor untuk pendirian tiang pancang jalan layang, ternyata sebagian besar di atas aliran air. “Ingat, karst tempat menyimpan air. Jika aliran air tertutup, proses ekologi akan terganggu.”

Selain itu, antara tebing-tebing karst terdapat sinkhole (jalur air dari permukaan). Jalur air ini biasa berbentuk ceruk kecil ataupun retakan kecil, yang berfungsi sebagai jalan utama saat terjadi hujan dan memasukkan ke celah karst. Lalu mengalir menuju sungai bawah tanah, atau menuju gua. “Jika jalur ini tertutup, proses krastifikasi tak akan terjadi.”

Tak hanya itu, membangun infrastruktur di permukaan karst harus memiliki perhitungan baik. Karst adalah batuan mudah retak dan patah, tak seperti batuan padat lain yang masif dan kuat. Sesekali waktu pada batuan karst bisa terjadi runtuhan kecil.

Sinkhole tak bisa dibuat manusia. Lubang air diciptakan alam dalam proses panjang. Jadi jangan dirusak.”

Saya mencoba mencari jalur air namun tak menemukan. Indra memperlihatkan gua di bawah jalan. Beberapa merupakan sumber air utama penduduk di sekitar kawasan. “Jika tiang jalan itu menerobos aliran air, akan ada perubahan besar dalam perut karst. Itu akan sangat merugikan,” kata Siti Chadidjah Kaniawati, kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung.

Menurut Dede, panggilan akrab Siti Chadidjah, air akan mencari celah baru dan berusaha menerobos dinding karst lain. Jika tak sanggup, akan terjadi luapan dan menyebabkan kekeringan. “Kita belum bicara tentang ekologi spesifik loh. Yang dalam gua itu, mungkin saja ada kelelawar atau hewan lain yang menjadi ciri khas.”

Sementara itu, ketika jalan mulai menerobos kawasan taman nasional, akan terjadi penurunan tingkat pembagian zona. “Jika awalnya wilayah itu zona inti dan zona rimba, saat jalan baru jadi akan menjadi zona khusus atau pemanfaatan.”

Dalam pembagian kawasan wilayah, tak dibenarkan menebang ataupun mengganggu zona inti dan rimba di luar kegiatan kehutanan. Zona khusus atau pemanfataan dibenarkan ada kegiatan wisata dan hanya pendidikan.

Apakah tak ada jalur lain untuk pembangunan jalan? Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang, punya perhitungan lain. Menurut dia, jalur yang menghubungkan Maros–Bone merupakan jalur utama perdagangan menuju Kendari, Sulawesi Tenggara. Jika ditarik garis lurus titik ini akan menghubungkan Pelabuhan Bajoe (Bone) menuju Maros lalu ke Pelabuhan Makassar. “Jika arus Maros ke Bone terputus, akan berdampak pada Sulawesi Tenggara.”

Menurut Nu’mang, setiap hari truk-truk pengangkut kebutuhan pokok dan hasil alam melewati jalur Maros–Bone. “Seperti Kakao dari Sultra, semua tertampung di Pelabuhan Makassar. Saya kira tak ada jalur lain lebih strategis selain jalur itu,” katanya.

“Jika ada lokasi memasuki taman nasional, kita kajian bersama. Di Sumatera Barat sudah ada kelok sembilan, saya kira itu akan lebih bagus. Awalnya hutan lindung.”

Dia menambahkan, ketika jalan layang dan pelebaran dilakukan di Maros  menuju Bone, pengunjung akan mendapatkan spot bagus. Berhenti di sisi jalan melihat Macaca, atau burung terbang. “Disitu akan ada nilai wisata. Kita (pemerintah daerah) tak akan merusak kekayaan alam,” kata Nu’mang.

Pembangunan sudah dimulai

Kamis (14/9/14), groundbreaking pembangunan infrastruktur di Sulsel sudah dilaksanakan.  Antara lain peletakan batu pertama pembangunan rel kereta api, underpass pertigaan bandara Sultan Hasanuddin dan peningkatan kapasitas jalan dari Maros-Bone.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI, Deded P. Sjamsuddin mengatakan, peningkatan kapasitas jalan untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas. “Sekarang jalur, lebar ada empat, lima dan enam meter. Sangat sempit untuk kendaraan truk besar seperti 12 roda. Selalu terjadi kemacetan.”

Saat ini, pelebaran jalan sudah berjalan di beberapa titik mencapai 20 kilometer. Sementara pelebaran belum menyentuh taman nasional. Anggaran APBN Rp80 miliar. Targetnya, tahun 2015 pembangunan awal masuk taman nasional. Untuk rencana jangka menengah, 2015–2018 total Rp1 triliun. “Kita lihat nanti (besaran anggaran), bisa naik dan bisa turun, tergantung situasi.”

Dedy Asriady, kepala seksi Balai TN Bantimurung Bulusaraung, memperkirakan hal sama. “Semua dampak akan dikaji. Bisa saja dengan laju kendaraan lebih cepat, kemungkinan besar satwa melintas akan tertabrak. Tim independen Kemenhut sudah memberikan rekomendasi. Kita menunggu.”

sumber : http://www.mongabay.co.id/2014/10/03/pembangunan-jalan-maros-bone-ancam-ekosistem-karst-mengapa/

KOPHI QUICK SOLUTION

24 Feb

Salam,

Kophi Quick Solution adalah salah satu bentuk kepedulian Kophi Sulsel terhadap masyarakat yang memiliki kondisi lingkungan  buruk. Kophi Sulsel mencoba memberikan penanganan cepat dan memberikan solusi teknologi tepat guna dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

Dimulai dengan melakukan survey di beberapa lokasi yang diduga memiliki kondisi lingkungan  buruk. Tim Survey sepakat bahwa lokasi yang dipilih berada di Jl.galangan kapal Rt.3 Kel.Kaluku Bodoa Kec. Tallo. Dengan alasan kurangnya air bersih dan sampah yang menumpuk serta drainase yang buruk.

Di lokasi tersebut, air PDAM sudah 3 bulan mampet, sedangkan warga tetap membayar biaya beban sebesar Rp. 35.000-40.000. Warga sekitar sudah beberapa kali demo, namun pihak PDAM hanya menyuruh untuk bersabar. Entah sampai kapan warga harus bersabar?.

Untuk memenuhi kebutuhan airnya, warga harus membeli dengan harga Rp 5.000 per gerobak, yang digunakan untuk sehari. Selain itu, sebagian warga pun memanfaatkan sumur yang ada, mesikpun tidak berbau air sumur tersebut tidak layak untuk diminum karena keruh.

Permasalahan lain yang ada di lokasi adalah buruknya kondisi drainase. Kondisi drainase tersumbat oleh sampah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi banjir. Menurut warga sekitar, walaupun hujan hanya 1 jam, air langsung menggenangi beberapa titik daerah setempat.

Selain itu, ada sebuah tanah kosong yang menjadi tempat penumpukan sampah. Sampah-sampah tersebut tidak pernah diangkut oleh truk sampah sehingga menumpuk.

Melihat kondisi-kondisi tersebut, Kophi Sulsel melalui Kophi Quick Solution, mengadakan sosialisasi penanganan banjir, pembuatan sistem penamanenan air hujan (SPAH) dan lubang resapan biofori pada hari sabtu dan minggu (22-23/2/2014). Warga menyambut baik aksi Kophi Sulsel ini.

Pembuatan SPAH diharapkan mampu menjadi solusi permasalahan kekurangan air bersih. Jika tidak hujan, maka air sumur pun dapat dimasukan ke SPAH. Kophi Sulsel juga mengajak warga RT 3 untuk gotong royong membersihkan drainase yang tersumbat. Permasalahan drainase ini merupakan hal yang kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan membersihkan di satu titik tertentu, oleh karena itu Kophi Sulsel berharap timbul kesadaran masyarakat lain untuk menjaga kondisi drainasenya.

Kophi Sulsel mengucapkan terimakasih banyak kepada teman-teman yang telah mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan kepada warga Kel.Kaluku Bodoa yang menyambut baik kegiatan ini.

Semoga kegiatan ini tidak hanya sampai disini.

#SALAMLESTARI !

Bersih Itu Murah

29 Dec

Bersih Itu Murah

Anda pasti sudah tidak asing lagi mendengar, atau melihat perusahaan-perusahaan IT yang telah mendunia seperti Apple, Google, dan Microsoft. Apakah kalian tahu apa yang menjadi sumber energi yang menjadi pasokan utama dari perusahaan-perusahaan tersebut?, yapp betul sekali mereka menggunakan Batubara. Seperti yang kita ketahui bahwa batubara merupakan sumber energi terkotor dan penyebab polusi paling utama bagi udara di dunia ini.

Batubara bukan hanya sumber energi yang usang, tetapi PLTU juga adalah penyumbang nomor wahid pemanasan global di AS. Tidak hanya melepaskan beribu ton karbon di atmosfer selama satu tahun, industri batubara juga salah satu hambatan terbesar untuk kebijakan energi terbarukan. Beberapa perusahaan listrik meningkatkan kapasitas PLTU yang ada daripada beralih ke energi bersih terbarukan. Dan untuk melindungi investasi, mereka menghabiskan dana untuk melobi pemerintah demi memastikan batubara memperoleh keuntungan yang kompetitif Continue reading