Archive | October, 2016

Mengenal “Sampah Makanan”, Salah Satu Kontributor Perubahan Iklim

1 Oct

food-loss-food-waste

Menurut FAO, sampah makanan berarti jumlah sampah yang dihasilkan pada saat proses pembuatan makanan maupun setelah kegiatan makan yang berhubungan dengan prilaku penjual dan konsumennya.

Sampah makanan dapat berasal dari perilaku yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Makanan yang akan tumpah atau membusuk sebelum mencapai produk akhir atau tahap ritel disebut kehilangan makanan / food loss. Hal ini dapat terjadi karena terdapat masalah pada saat panen, penyimpanan, pengepakan, transportasi, infrastruktur atau mekanisme pasar / harga, serta kerangka kerja kelembagaan dan hukum.

Sebagai contoh, pisang yang dipanen jatuh dari truk, dianggap sebagai kehilangan makanan (food loss). Sedangkan, makanan yang layak untuk dikonsumsi manusia, tetapi tidak dikonsumsi karena rusak atau dibuang oleh pengecer atau konsumen disebut limbah makanan. Limbah makanan dapat disebabkan karena buruknya aturan penandaan makanan masuk dan keluar, sehingga banyak makanan yang terbuang percuma karena kadaluwarsa, penyimpanan yang tidak tepat,  dan membeli atau praktek memasak.

Menurut data tahun 2010, Amerika Serikat menghasilkan 34 juta ton sampah makanan dan hanya 3 persen yang mampu di daur ulang kembali. Di Inggris, 1/3 makanan yang dibeli oleh setiap penduduknya berakhir di tempat sampah, yang juga berarti setiap keluarga di Inggris setiap tahunnya membuang makanan seharga 400 poundsterling (5,9 juta rupiah).

Untuk tingkat dunia (data tahun 2010), sampah makanan mencapai 1,3 Triliun ton yang dibuang setiap tahun. Jumlah tersebut merupakan sepertiga dari jumlah makanan yang diproduksi. Dengan rincian 40% sampah makanan yang dihasilkan negara berkembang berasal dari proses produksi, sedangkan untuk industrialized country, menghasilkan 40% sampah makanan pada saat berada ditangan konsumen.

Kenapa Food Loss dan Food Waste adalah sebuah masalah?

Food Loss dan Food Waste menjadi sebuah masalah karena untuk memproduksi makanan yang akhirnya menjadi sampah dan dibuang tersebut, digunakan 25% dari seluruh air bersih yang tersedia atau setara telah menghabiskan 600 kubik kilometer air. Padahal, 1.1 juta orang di dunia tidak memiliki akses air minum.

Selain itu, 300 juta galon minyak bumi dan penebangan hutan seluas 9,7 juta hektar untuk budidaya tanaman pangan, akan menjadi terbuang sia-sia karena makanan yang diproduksi menjadi sampah.

Perlu diketahui dengan membuang makanan tentu saja membuang sumber daya dan energi yang lain. Misalnya kita membuang 1 liter susu, berarti kita juga membuang air yang diperlukan untuk membuat susu itu beserta energi yang diperlukan untuk membuat 1 liter susu. Belum lagi makanan untuk ternak sapi perah susu, bahkan jika sapi tersebut makan rerumputan berarti kita juga membuang air sebanyak yang dibutuhkan untuk menumbuhkan rerumputan tersebut.

Menurut Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Surabaya (ITS), FAO memperkirakan bahwa sepertiga dari produksi pangan global akan terbuang atau hilang. Limbah makanan itu menguras potensi sumber daya alam yang besar, namun justru menjadi kontributor terhadap dampak lingkungan yang negatif.

Setelah berada di tempat pembuangan sampah, makanan rusak akan menghasilkan gas metan. Metana 23 kali lebih kuat daripada CO2 untuk menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca yang memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim saat ini. Menurut FAO, sampah makanan memberikan kontribusi sebesar 8% emisi GHG (Green House Gas).

Karena efek rumah kaca, sinar matahari memancarkan radiasi ultraviolet ke bumi yang akan diterima oleh bumi dan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah. Atmosfer akan meneruskan radiasi inframerah ini ke luar angkasa. Namun karena terdapat gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer akan menghalanginya sehingga dipantulkannya kembali radiasi inframerah ini ke bumi. Ditambah dengan radiasi ultraviolet dari matahari, akan menyebabkan naiknya suhu permukan bumi.

Efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global. Karena itu makanan yang terbuang di tempat sampah berkontribusi  cukup besar terhadap pemanasan global.

Selain daripada itu sisa makanan mengandung konten organik dan kelembaban tinggi, ketika membusuk akan menghasilkan bau menyengat yang akan berdampak serius terhadap lingkungan hidup dan kesehatan kita. Dengan mengurangi sampah makanan, secara tidak langsung kita juga mengurangi resiko terjadinya climate change atau perubahan iklim. Berdasarkan FAO, Jika pemanfaatan makanan dan proses distribusi dapat dioptimalkan atau ditata secara baik, maka 14% dari seluruh emisi GHG yang berasal dari sektor pertanian, dapat direduksi pada 2050.

Apa yang harus dilakukan?

Di beberapa negara di Benua Eropa dan Amerika Serikat, sampah sisa makanan telah menjadi topik pengelolaan sampah yang dibicarakan secara khusus. Di Amerika Serikat pada khususnya, kampanye mengenai food recovery hierarchy telah disebarluaskan kepada masyarakat. Food recovery hierarchy ini mengedapankan pengurangan sampah makanan di sumber dan menjadikan penimbunan di landfill sebagai opsi yang paling dihindari. Sebagai contoh lain, Negara Singapura telah melakukan pilot project daur ulang sampah makanan menjadi bahan kompos dan pembangkit energi pada tahun 2010.

food-waste-recovery-hierarchy

Sedangkan di Indonesia pengelolaan sampah makanan masih dimasukkan ke dalam pengelolaan sampah kota, dimana hal ini akan memperpendek jangka waktu pemakaian landfill itu sendiri, sampah makanan yang mudah terurai dan dapat dikelola secara terpisah tetap ditimbun di dalam landfill.

Menurut Khoo HH et al (2009), dari beberapa alternatif pengelolaan sampah makanan yang tersedia, metode composting dan penggunaan metode anaerobic digestion merupakan metode daur ulang sampah makanan yang cukup berhasil.

MoS2 Template Master

Keunggulan dari metode ini yaitu:

  1. Penggunaan food digester skala rumah tangga perkotaan dapat mengurangi penggunaan LPG 100 kg atau 250 liter minyak tanah yang ekuivalen dengan 300-600 kg CO2/ tahun.
  2. Untuk rumah tangga perdesaan mengurangi 3 ton kayu per tahun yang akan menghasilkan 5 ton CO2 kalau dibakar.
  3. Metana terbakar dengan warna biru tanpa menghasilkan asap yang banyak. Berbeda dengan bahan bakar kayu.
  4. Efluen dari digester dapat digunakan sebagai pupuk cair.

Selain itu, untuk mengatasi masalah sampah makanan ini juga bisa dengan membuat Food Bank. Dimana Food bank berperan sebagai pusat koordinasi makanan sisa dan sumbangan dari berbagai sumber. Mulai dari pabrik makanan, restoran, hingga rumah tangga. Nantinya makanan itu diolah, disimpan, dijual, dan disumbangkan kepada konsumen yang membutuhkan, seperti posko pengungsian, panti asuhan, dan sekolah. Jadi, makanan tidak akan terbuang percuma dan masyarakat yang membutuhkanpun bisa tercukupi makanannya.

Berikut beberapa tips untuk menghindari makanan bersisa:

  1. Jika anda hendak makan direstoran, pilihlah restoran yang menyajikan makanan sesuai dengan porsi makan anda. Hanya memesan makanan yang sekiranya benar-benar akan dimakan dan habis. Atau bisa beralih ke restoran prasmanan di mana kita yang menentukan porsi makanan sendiri
  2. Jika anda hendak mengadakan sebuah acara jamuan makan atau pesta perkirakan jumlah tamu yang akan datang dan sesuaikan dengan banyaknya makanan yang akan dihidangkan. Sisa hidangan pesta yang masih memungkinkan bisa simpan di lemari pendingin. Sehingga nanti bisa dimasak kembali dengan resep yang berbeda sehingga tidak bosan.
  3. Sesuaikan belanjaan bahan makanan dengan menu yang kan dibuat.
  4. Jangan pernah membeli makanan yang cepat busuk jika tidak ingin segera mengolahnya.
  5. Membeli makanan di pasar lokal, agar mengurangi biaya transportasi makanan.

Jangan buang-buang makanan ya!

Salam lestari!


Sumber:

http://www.fao.org/food-loss-and-food-waste/en/

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-09-11/limbah-makanan-emiten-karbon-ketiga-terbesar-di-dunia/1189427

http://www.zetizen.com/show/1284/food-bank-penyalur-sisa-makanan

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2013/07/19/nasib-makanan-terbuang-global-warming/

http://www.banksampahmelatibersih.com/2013/04/fakta-tentang-sampah-makanan-food-waste.html#.V-KmjzXcDmE

http://blh.probolinggokota.go.id/biogas-dari-sampah-makanan-food-digester/