Archive | April, 2016

Sustainable Living di Makassar

30 Apr

Seiring dengan berjalannya waktu, kata “sustainable” kian populer dikalangan pemerintah maupun masyarakat. Entah itu sustainable development, sampai kepada sustainable energy. Namun, banyak orang yang melupakan satu “sustainable” penting yang memiliki dampak besar dan dapat memengaruhi sustainable-sustainable lainnya yaitu sustainable living.

Apa sih Sustainable Living itu?

Sustainable living jika diartikankan dalam bahasa Indonesia berarti kehidupan yang berkelanjutan. Kehidupan yang berkelanjutan disini maksudnya adalah kehidupan dengan pola hidup yang ramah lingkungan dimana penggunaan sumberdaya dilakukan seminimal mungkin sehingga dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan menjadi seminimal mungkin pula agar generasi selanjutnya dapat tetap menikmati sumberdaya yang ada.

Berbicara mengenai pola hidup ramah lingkungan sudah tidak asing di telinga kita, apalagi sejak isu-isu lingkungan menjadi booming dikalangan masyarakat, kampanye ramah lingkungan pun gencar dilakukan bersamaan dengan dikeluarkannya produk-produk ber-ecolabel.

Hanya saja, di kota Makassar, yang merupakan kota metropolitan dengan perkembangan pembangunan yang kian pesat, pola hidup berkelanjutan/ramah lingkungan masih sangat minim diterapkan di kalangan masyarakat. Meskipun sudah banyak program-program “kreatif” pemerintah untuk memperbaiki lingkungan di Makassar, tetapi masyarakat seolah tutup mata dan kembali pada pola hidup “primitive” mereka, seperti: buang sampah sembarangan, menggunakan kemasan plastik, hingga menggunakan kendaraan bermotor meskipun jarak yang ditempuh cukup dekat.

Menurut youth speak forum, di seluruh dunia, telah terjadi peningkatan dalam penanganan permasalahan yang berkaitan dengan sustainable living dari berbagai sektor. Mulai dari peningkatan ketersediaan air bersih, peningkatan pendapatan masyarakat yang berdampak pada penurunan angka kemiskinan hingga 50%, sampai kepada penurunan angka kematian bayi. Hal tersebut dikarenakan adanya keberanian masyarakat khususnya kaum muda dalam menyuarakan kepeduliannya terhadap permasalahan yang terjadi di sekitar mereka.

Menilik hal tersebut, kota Makassar masih memiliki harapan yang besar untuk berbenah diri dalam menciptakan sustainable living ditengah-tengah masyarakatnya. Asalkan, ada pemuda(i) yang berani bersuara mengkritisi permasalahan yang ada dan tentunya memberikan contoh ke lingkungan sekitarnya dan juga memberi solusi sebagai tindaklanjutnya. Namun, untuk hasil yang lebih efektif, dalam menerapkan sustainable living ini harus dilakukan selangkah demi langkah. Artinya, fokus ke salah satu permasalahan yang ada hingga selesai, lalu kemudian pindah ke permasalahan yang lainnya.

Akhir kata, “LET’S YOUR VOICE TO BE HEARD”. Salam Lestari!

Advertisements

Mengapa Terjadi Krisis Air Bersih?

8 Apr

“Bismillahirrohmanirrohim, Semoga dapat menambah khazanah pengetahuan teman-teman pembaca”

~~

Setiap kehidupan, mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Dalam menjalani proses tersebut dibutuhkan suatu sumber kehidupan. Air adalah sumber kehidupan. Contohnya dalam kehidupan manusia. Tubuh manusia memerlukan air. Sekitar 50-78% tubuh manusia mengandung air. Air juga dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, atau keperluan yang lain. Begitu penting peranan air dalam kehidupan.

Di Bumi, perbandingan antara daratan dengan perairan itu sangat signifikan. 30% bumi adalah daratan, dan 70%-nya adalah perairan. Jadi, bisa dikatakan sumber daya air di bumi begitu melimpah. Namun, bukan berarti kesemua air yang ada di bumi tersebut bisa dimanfaatkan secara langsung.

lala

Tabel Kuantitas Air

Sebanyak 97,3% air di bumi adalah air laut. 2,7% sisanya adalah air tawar. Dari 2,7% air tawar, 2,1% adalah berupa es/glacier. Air yang biasa kita manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari adalah air tanah. Namun, jumlahnya sangat kecil, yakni berkisar 0,6% dari total jumlah air di dunia.

 

Siklus Hidrologi

Air mengalami suatu siklus, yang disebut siklus hidrologi. Sederhananya, terdapat tiga tahap siklus hidrologi.

  1. Presipitasi (Hujan)
  2. Evaporasi (Penguapan)
  3. Run Off (Limpasan)
siklus-air-dan-tahapan-lengkap

Siklus Hidrologi

Gambar: Gambaran Siklus Hidrologi.

alal

Tabel Keberadaan Air

Jika kita lihat di tabel, jumlah air dalam presipitasi dan evaporasi itu sama. Jadi, bisa dikatakan jumlah air itu konstan. Jumlahnya tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah. Sama seperti sifat mutlak energi yang tidak dapat berkurang maupun bertambah, melainkan hanya berubah wujud. Air juga begitu, jumlah air itu konstan, akan tetapi, terkadang di wilayah tertentu mengalami kekurangan air, namun di wilayah yang lain air begitu melimpah ruah.

Lalu, Jika air itu berkurang, jumlahnya tetap, lalu mengapa masih terjadi krisis air?

 

Penyebab Krisis Air.

  1. Perilaku Boros Air

Sudah sangat jelas, perilaku boros air menyebabkan krisis air. Lupa menutup keran, membiarkan air meluap begitu saja, berlebihan menggunakan air saat mandi, mencuci, dan lain-lain merupakan perilaku boros air. Kebanyakan orang berpikir bahwa air itu gratis atau murah. Sehingga menimbulkan pemikiran bahwa air itu adalah sesuatu yang melimpah dan kurang berharga.

  1. Pertambahan jumlah penduduk.

Pada tahun 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa. Pada Tahun 2013, penduduk Indonesia bertambah menjadi 249,9 juta jiwa. Selisih tiga tahun, jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar 12,3 juta jiwa. Jika diasumsikan seseorang menggunakan air sebanyak 300 ltr/hari untuk semua aktivitasnya, maka kebutuhan air untuk seluruh penduduk Indonesia bertambah sekitar 3,69 Miliar liter/ Hari. Sementara, air itu konstan, tidak bertambah.

  1. Tekanan Lingkungan dan Perilaku Konsumtif dari Industri dan Pertanian.

Bertambahnya jumlah penduduk, maka bertambah pula jumlah industri dan jasa serta tak lupa juga sektor pertanian. Mengapa dikatakan perilaku konsumtif dan juga tekanan lingkungan?

~

Contoh kasus:

Suatu industri pembangkit listrik biasanya terletak di dekat sumber air, baik itu sungai, danau, maupun laut. Mengapa? Karena setiap harinya, pembangkit listrik itu membutuhkan sekiranya ratusan ribu liter air untuk dimasukkan ke dalam sistem pendingin mesin dan selanjutnya digunakan untuk mendinginkan mesin yang terus menerus beroperasi sepanjang waktu.

Air yang telah digunakan untuk mendinginkan mesin mau tidak mau akan dimasukkan kembali ke badan air dalam bentuk limbah. Limbah air tersebut biasa disebut limbah bahang/air panas. Terjadilah suatu polusi lingkungan, yang disebut polusi thermal yang dapat merusak badan air maupun organisme-organisme yang berada di dalam badan air. Polusi inilah yang dapat menyebabkan air dari badan air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.

  1. Intrusi Air Laut.

Intrusi air laut adalah masuknya air laut ke dalam tanah untuk menggantikan posisi air tanah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain; Rusaknya kawasan konservasi pesisir sehingga menyebabkan minimnya penghalang/pembatas antara kawasan laut dengan daratan; Pemanfaatan air tanah yang berlebih sehingga menyebabkan adanya ruang kosong di dalam tanah sehingga dapat membuat air laut mengisi ruang tersebut; serta dapat juga terjadi jika permukaan muara air sungai lebih rendah dari permukaan air laut sehingga dapat menyebabkan air laut masuk ke badan sungai saat pasang.

  1. Kerusakan Sumber Daya Air

1. Sungai

Pada umumnya kerusakan sungai diakibatkan oleh pencemaran limbah industri maupun limbah domestik. Jika sungai sudah mengalami kerusakan, maka air sungai sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

2. Danau

Danau dapat terjangkit suatu “penyakit”. “Penyakit” yang biasanya diderita oleh danau adalah pendangkalan dan eutrofikasi. Pendangkalan dan eutrofikasi pada danau pada umumnya disebabkan karena adanya kegiatan pertanian maupun peternakan di sekitar danau. Erosi pada pinggir danau dapat menimbulkan pendangkalan. Eutrofikasi adalah penyuburan pada wilayah danau. Senyawa utama yang mengakibatkan eutrofikasi adalah Phospat. Phospat biasanya berasal dari limbah domestik, pupuk pertanian, maupun dari limbah perikanan (sisa makanan ikan, dsb). Hal ini menyebabkan air menjadi terlalu subur, lalu tumbuhlah berbagai tanaman air dengan pesat. Tumbuhan tersebut dapat menutup permukaan danau. Tumbuhan memiliki daya volatile/volatilitas/menguapkan air. Akibat pesatnya jumlah tumbuhan serta terjadinya pendangkalan danau, pada akhirnya akan menyebabkan berkurangnya kuantitas/jumlah air dalam danau.

6999598154_f284407cb9_b

Pendangkalan Danau Mawang, Kab. Gowa

Gambar: Danau Mawang, Kab. Gowa. Salah Satu Danau Yang Mengalami

               Pendangkalan dan Eutrofikasi

3. Cekungan Air Tanah (CAT)

Akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan, maka dapat menyebabkan rusaknya cekungan air tanah. Hal ini dapat berdampak terhadap siklus air tanah, kualitas, maupun kuantitas air tanah.

 

Land Subsidence/Penurunan Muka Tanah.

Sangat banyak manusia yang menggunakan air tanah. Hampir setiap rumah, memiliki sumur bor. Air tanah dieksploitasi secara terus-menerus. Akibatnya, timbulah ruang kosong di dalam tanah. Tanah di lapisan atas menurun ke bawah mengisi ruang-ruang kosong tersebut karena beban diatasnya. Hal ini menyebabkan permukaan tanah menurun. Faktanya yang paling signifikan adalah penurunan level muka tanah di wilayah perkebunan San Joaquin Valley, California, US. Dari kurun waktu 50 tahun, dari tahun 1925-1977, permukaan tanahnya menurun hingga 9 meter.

land-subsidence-poland-calif

Land Subsidence

Gambar: Penurunan Muka Tanah di San Joaquin Valley, California

  1. Distribusi Air Kurang Merata

Cakupan pelayanan air di Indonesia masih rendah. Pada tahun 2008, wilayah perkotaan hanya 47% wilayahnya yang dijamah oleh layanan PDAM. Di pedesaan hanya sekitar 12% yang mendapatkan layanan distribusi air bersih. Selain itu, adanya pula kesulitan dalam pendanaan untuk pengembangan dan operasional jaringan distribusi karena rendahnya tarif dan beban utang. Tingkat kehilangan air juga tinggi (33%) serta tekanan air di jaringan distribusi masih rendah, sehingga walaupun di suatu wilayah terdapat suatu jaingan distribusi, akibat tekanan air di jaringan pusat rendah, air pun tidak sampai menjangkau wilayah tersebut (Prof. Mary Selintung, dalam bukunya; Pengenalan SPAM).

  1. Pengelolaan Air yang Kurang Maksimal

Perubahan iklim membuat kita sulit untuk memprediksi cuaca. Ketika panas, temperatur sangat tinggi, bahkan dapat mencapai suhu ekstrim. Begitupun sebaliknya. Ketika Hujan, sangat deras. Air melimpah ruah. Banjir dimana-mana. Namun, air banjir ini tidak dapat kita kelola. Air ini melimpas ke laut begitu saja. Hal ini disebabkan karena sistem pengelolaan (drainase) yang buruk.

“Ketika hujan, aliran limpasan yang dapat dimanfaatkan hanya 25% saja. Tiga perempat lainnya terbuang percuma ke laut” (Sjarief dan Koedati, 2005)

~~

Dari sekian penyebab masalah krisis air, tentu ada solusi untuk menangani, maupun untuk mencegahnya. Solusi tersebut menurut penulis secara garis besar ada tiga. Yaitu melalui optimasi penyaluran air bersih, optimasi pasokan air bersih, dan optimasi penyimpanan air bersih.

  1. Optimasi Penyaluran Air Bersih

Hal ini dimaksudkan, agar semua lapisan penduduk dapat menikmati air bersih. Penduduk pelosok tidak lagi mengeluarkan tenaga maupun biaya tambahan untuk mendapatkan air bersih. Memperbanyak IPA (Instalasi Pengolahan Air) agar bisa menjangkau wilayah pelosok maupun wilayah yang belum terjamah oleh layanan air bersih.

  1. Optimasi Pasokan Air Bersih

Untuk dapat kita manfaatkan, air harus memenuhi tiga syarat;

  • Kualitas

Sumber daya air tersebut harus bebas dari bahan pencemar, atau memenuhi standar baku mutu untuk dapat dikonsumsi airnya

  • Kuantitas

Sumber daya air tersebut mengandung/memiliki potensi air yang dapat mewadahi banyak orang untuk dikonsumsi

  • Kontinuitas

Sumber daya air tersebut harus tetap ada/konsisten keberadaannya dan bisa dimanfaatkan airnya secara terus menerus/berkesinambungan.

Oleh karena itu, kita harus menjaga keberlangsungan sumber daya air agar dapat kita manfaatkan potensi airnya. Jangan membuang sampah sembarangan ke badan sungai. Untuk industri, air limbah harus melewati Unit Water Treatment dan limbahnya harus memenuhi standar baku mutu sebelum dibuang ke badan sungai/laut/danau.

  1. Optimasi Penyimpanan Air Bersih
  • Hemat air. Save Water, Save
  • Membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH)

RTH selain berperan sebagai reduktor pencemaran udara, juga berfungsi sebagai lahan resapan air. Jadi, keberadaan RTH sangatlah penting. Mengingat RTH Publik Kota Makassar yang begitu minim, maka kita sebagai penduduk Kota Makassar seyogiyanya menambah jumlah RTH privat. Sisakan lahan sebanyak 10% saja dari luas total lahan rumah untuk dijadikan RTH maupun lahan resapan.

  • Rainfall dan Run Off Harvesting

Rainfall Harvesting dapat dilakukan dengan membuat Sistem Pemanenan Air Hujan (SPAH). Air hujan kita tamping dalam suatu wadah, untuk dimanfaatkan ketika tidak terjadi hujan.

Run Off Harvesting

Dengan membuat biopori/lubang resapan. Hal ini dimaksudkan agar air hujan tidak melimpas percuma. Dengan membuat biopori, sama halnya dengan kita menabung air di dalam tanah, untuk dimanfaatkan di kemudian hari.

  • Merancang Sistem Drainase yang Baik.

Agar saat hujan air tidak melimpas percuma, maka sepatutnya kita membangun suatu sistem drainase yang baik. Dimana air yang melimpas ketika hujan melewati berbagai tahap dari sistem drainase, yang pada akhirnya terkumpul di suatu wilayah rendah/danau/waduk buatan. Waduk buatan untuk menampung limpasan banjir ini biasa disebut waduk tunggu. Saat ini Makassar hanya mempunyai satu waduk tunggu. Danau Borong itulah yang merupakan satu-satunya waduk tunggu di Kota Makassar. Rencana akan dibangun empat lagi waduk tunggu yang bertempat di wilayah yang menjadi langganan banjir, yaitu; Kecamatan Tamalanrea, Pacerakkang, Manggala, dan Moncongloe

  • Membangun Sistem Manajemen Pengelolaan Air Terpadu

Dapat diwujudkan dengan membangun bendungan. Banyak persoalan mengenai air terjadi karena kurang baiknya manajemen pengelolaan sumber daya air.Untuk mengatasi hal tersebut, maka dibangunlah suatu bendungan. Fungsi utamanya adalah menampung air ketika berlebihan, dan dipergunakan untuk musim kemarau. Bendungan Bili-bili.

Pada tahun 70-80an, banjir selalu melanda kawasan hilir Sungai Jeneberang di Kota Makassar. Air melimpah, tapi hanya menjadi banjir saja, menjadi bencana. Bendungan Bili-bili dibangun untuk mengatasi hal tersebut. Selain itu, Bendungan Bili-bili adalah bendungan serba guna. Dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Melalui suatu sistem terpadu, kita dapat mengatur berapa jumlah air yang diperlukan untuk keperluan air minum, keperluan irigasi, keperluan listrik, maupun air yang dilepaskan ke badan sungai agar aliran sungai tetap terjaga. Selama dibangun dan beroperasi sejak tahun 1985, bendungan tersebut telah berfungsi dengan baik, sebelum bencana longsor Gunung Bawakaraeng di tahun 2004.

 

Imam Aprianto

imamapri07@gmail.com

 

Pertanyaan:

  1. Bagaimana solusi konkret dari pencemaran limbah cair domestik dan industri yang dibuang ke sumber air? (Pertanyaan Sdr. Nadya)

Jawaban:

Solusi terbaiknya adalah mencegah air limbah mencemari sumber daya air. Hal ini dapat dilakukan dengan;

  1. Membuat water treatment plan untuk industri. Agar pada proses akhir ketika akan dibuang ke badan sungai/danau sudah memenuhi standar baku mutu.
  2. Untuk limbah domestik, dapat dibuat dengan IPAL Komunal. Limbah kotoran dari tiap rumah dikumpul dalam suatu IPAL, dimana di dalam IPAL Komunal itu berisi sejumlah bakteri yang berfungsi untuk mengurai kotoran tersebut. (Jawaban dari Kanda Jumran)

Jika bahan pencemar sudah terlanjur masuk ke badan sungai, maka dapat direkayasa suatu terjunan kecil pada sungai. Terjunan ini adalah wujud dari prinsip aerasi, dimana kandugan kimia air akan berkurang akibat teroksidasi oleh oksigen dari udara bebas. (Jawaban dari Imam)

  1. Apa solusi untuk mengatasi Intrusi Air laut ketika air laut sudah terlanjur mencemari air tanah? Selain metode reverse osmosis karena biayanya yang mahal (Pertanyaan dari Sdr. Nisa)

Jawaban:

Sebenarnya ada lagi satu metode yang lebih murah dibandingkan RO untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Yaitu metode destilasi. Prinsipnya sederhana, memanaskan air laut lalu mengambil air uapnya yang telah menjadi tawar. Tapi, juga cenderung kurang efektif. Jadi Solusi terbaiknya adalah mencegah intrusi air laut itu sendiri. Salah satu caranya ialah dengan menanam tanaman Mangrove. (Jawaban dari Imam)

  1. Bagaimana cara mencegah Land Subsidence/Penurunan Level Muka Tanah di wilayah komersil? Seperti yang kita ketahui daerah komersil menggunakan air tanah dengan jumlah yang banyak untuk keperluannya. Sehingga sangat berpotensi terjadinya penurunan muka tanah di wilayah tersebut. (Pertanyaan dari Sdr. Wahid)

Jawaban:

Setahu saya, sudah ada beberapa hotel/perusahaan komersil di Makassar yang mempunyai unit pengolahan air tersendiri. Jadi, air limbahnya diolah, untuk dimanfaatkan kembali. Prosesnya berlangsung terus menerus. Ketika menjadi air limbah, diolah kembali lagi menjadi air bersih, sehingga tidak perlu lagi banyak-banyak menggunakan air tanah sebagai sumber airnya (Jawaban dari Sdr. Dwici)

Permasalahan ini bisa dianalogikan seperti masalah pencemaran udara. Untuk mengatasi pencemaran udara pada suatu industri, pada umumnya dilakukan penanaman pohon. Satu pohon dianalisis, seberapa besar kemampuannya untuk menyerap bahan pencemar udara, dan seberapa luas wilayah jangkauannya. Hal ini menjadi rujukan untuk menghitung seberapa banyak pohon yang akan ditanam, untuk mengatasi polusi udara dari suatu kegiatan industri. Sama halnya dengan permasalahan penurunan level muka tanah. Tapi, dalam hal ini, untuk mengatasinya maka dibuatlah suatu biopori. Satu biopori dianalisis, seberapa banyak air yang terserap. Hal tersebut menjadi rujukan bagi suatu perusahaan komersil untuk menghitung, seberapa banyak biopori yang akan dibuat dan seberapa air yang terserap, agar tidak terjadi penurunan level muka tanah. (Jawaban dari Kanda Ardi)