Problematika Masyarakat Modern Kota Makassar

9 Mar

Status Ruang terbuka Hijau Kota Makassar

maks

Bismillahirrohmanirrohim, Semoga dapat menambah khazanah pengetahuan teman-teman pembaca”

~~

Antara manusia dan lingkungan hidup terdapat suatu interaksi yang berlangsung secara terus menerus dan merupakan suatu proses yang alami. Interaksi tersebut berlangsung dikarenakan manusia membutuhkan daya dukung lingkungan dalam menjalani proses kehidupannya. Misalnya, udara untuk bernafas, air untuk diminum, makanan sebagai sumber energi, dan sebagainya. Semua kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut telah disediakan oleh alam.

Dalam interaksi tersebut nampaklah dua sifat manusia. Yang pertama adalah sebagai makhluk biologis. Sebagai makhluk biologis manusia merasakan lapar dan dahaga. Yang kedua adalah sebagai makhluk budaya. Ditinjau dari sifat manusia sebagai makhluk budaya, manusia memiliki kebutuhan yang begitu kompleks, seperti kebutuhan akan kekuasaan, kekayaan, pengetahuan, perasaan puas, dan sebagainya.

Manusia sebagai makhluk budaya pun terbagi lagi menjadi dua. Yang pertama adalah manusia primitif. Sifat primitif disini berarti manusia berhubungan secara langsung dengan lingkungan. Makan dan minum langsung dari alam, bergantung pada jenis dan jumlah yang tersedia di alam, dan membuka ruang untuk pemukiman dengan secukupnya saja. Yang kedua adalah manusia modern (Mukhlis Akhadi, 2009). Manusia modern adalah manusia yang telah dibekali oleh ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memiliki kemampuan untuk memodifikasi lingkungannya sesuai dengan taraf hidup/sosialnya. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki gunung pun dapat dibelah untuk selanjutnya dijadikan jalan bebas hambatan, mereklamasi pantai untuk dijadikan salah satu destinasi wisata modern dengan segala fasilitasnya, mengubah wilayah yang sebelumnya adalah hutan menjadi suatu wilayah kota yang modern, kompleks perindustrian, dan sebagainya.

Status RTH Kota Makassar

Kota Makassar adalah salah satu kotabesar di Indonesia. Padat penduduk, pusat kegiatan pemerintahan, industri, pendidikan,dan sosial di Provinsi Sulawesi Selatan.Perkembangan kota yang sangat pesat disebabkan oleh dinamika penduduk, perubahan sosial ekonomi, dan urbanisasi. Pertumbuhan penduduk kota yang tidak terkendali menyebabkan munculnya aktivitas pembukaan lahan untuk pemukiman. Kebutuhan ruang meningkat untuk mengakomodir kebutuhan-kebutuhan penduduk kota. Meningkatnya jumlah permintaan akan ruang kota, mengakibatkan kemerosotan kualitas lingkungan.

Rencana tata kota yang telah dibuat pun tidak mampu menghentikan alih fungsi lahan di wilayah perkotaan sehingga Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin terancam keberadaannya. Lahan yang semula adalah RTH dikonversi menjadi lahan pemukiman ataupun infrastruktur kota. Fungsi RTH sebagai penyeimbang antara lingkungan alam dan lingkungan binaan dikesampingkan. Kebanyakan pandangan masyarakat modern kota bahwa estetika kota terletak pada pembangunan yang pesat, fasilitas yang modern. Hanya minoritas yang berpikir bahwa estetika kota juga terletak pada kondisi RTH-nya, Jumlah RTH-nya, Jumlah taman-taman kotanya, dan sebagainya. Dari segi estetika kota, aspek pembangunan perkotaan lebih dicondongkan daripada aspek planologisnya.

Hal ini bisa dibuktikan. Pengetahuan akan RTH, manfaat, serta lokasinya di kota makassar masih jarang yang mengetahuinya. Saya pribadi beberapa kali bertanya kepada teman-teman mahasiswa, banyak yang belum tahu mengenai hal tersebut. Padahal, pengetahuan mengenai RTH termasuk pengetahuan umum, dan semestinya diketahui oleh semua kalangan. Sama seperti pengetahuan akan politik terkini yang rajin kita diskusikan, sama seperti kabar sepakbola yang sering kita perbincangkan. Bahkan, ada beberapa yang tidak menyadari bahwa Areal Kampus Unhas Tamalanrea merupakan salah satu RTH terbesar yang ada di Kota Makassar.

Status Ruang Terbuka Hijau Kota Makassar Tahun 2010, SLH Ekoregion Sulawesi (BUKA DISINI)

UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. RTH di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat dimana proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% RTH publik dan 10% terdiri dari RTH privat.

Jika dilihat dari rekapitulasi jumlah RTH yang berada di Kota Makassar tahun 2010, maka RTH yg tersedia tidak mencukupi atau tidak mencapai presentase 20% dari UU No. 26 Tahun 2007. Kondisi terkini, tahun 2016, Kota Makassar makin berkembang, baik dari segi pembangunan, pertumbuhan penduduk, maupun dari segi lainnya. Usaha-usaha perindustrian dan jasa makin bertambah, otomatis laju urbanisasi kian melonjak.

Lahan merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, Kota Makassar luasnya akan tetap,tidak akan bertambah. Sehingga, untuk mengakomodir kebutuhan penduduk yang semakin melonjak di tahun 2016 ini salah satu jalannya adalah dengan membuka lahan. Jadi, kemungkinan presentase RTH Kota Makassar tahun 2016 ini makin menurun.

Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menyeimbangkan ekosistem kota, kualitas udara kota, maupun sistem hidrologi kota. Namun, untuk mencapai proporsi tersebut, terkadang dilalui dengan cara yang sulit. Menggusur bangunan untuk dijadikan RTH tidak semudah bermain bongkar pasang. Mesti ada lobi-lobi ke masyarakat yang bersangkutan agar tidak terjadi chaos. Lihat saja begitu kompleksnya permasalahan penggusuran wilayah Kalijodo oleh Gubernur DKI Jakarta.

~~

Tentunya ada acara untuk mengatasi kekurangan RTH di perkotaan. Jika RTH Publik tidak mencukupi proporsi 20% sesuai dengan aturan, maka RTH privatlah yang perlu ditingkatkan jumlahnya. Setiap penduduk yang memiliki unit rumah, menyediakan lahan kosong/taman sebanyak 10% dari luas tanah total rumah. Dengan cara itu, aspek-aspek ekologis di perkotaan diharapkan menjadi lebih baik.

Tapi, lain lagi fakta yang ada. Hampir seluruh pemukiman yang ada di Kota Makassar adalah pemukiman padat. Luas tanah untuk sebuah rumah dimanfaatkan semaksimalnya untuk memperluas bangunan rumahnya. Ada juga yang menutup lahan terbukanya untuk dibuatkan garasi, toko-toko kelontong, dan sebagainya. Contoh konkretnya, lihat saja rumah-rumah yang berada di Perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Kompleks Hartaco Jl. Dg. Tata, Perumnas Antang, dan masih banyak lagi.

f

Foto Kondisi Salah Satu Rumah di Kota Makassar

Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan RTH yang semakin menipis, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. Masyarakat dapat bertindak sebagai penyedia RTH privat atau sebagai pengawas untuk mengawal kegiatan-kegiatan pembangunan yang rentan terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang. Pemerintah pun diharapkan bisa menjadi fasilitator yang baik dengan memanfaatkan potensi lahan yang ada. Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, tidak ada kata pesimis untuk memperluas RTH Kota Makassar menjadi 20%, mengingat peran RTH sangat penting. Selain menambah keelokan kota dari segi estetikanya, juga untuk mewujudkan Kota Makassar sebagai kota yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Author: Imam Aprianto (Imamapri07@gmail.com)

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: