Peliknya Permasalahan Lingkungan di Makassar

18 Apr

Setiap tahun Kota Makassar disesaki persoalan drainase, bangunan yang tidak terkontrol hingga menjadi kota ruko serta persoalan sampah. Semua masalah tersebut menumpuk bertahun-tahun termasuk masalah makin sempitnya lahan hijau di kota Makassar.
Perubahan status kota menjadi sebuah kota metropolitan memang berdampak pada semua lini diantaranya akan berdampak pada lingkungan kota itu sendiri. Makassar yang diidamkan akan menjadi kota dunia harus segera berbenah diri. Mulai dari sikap pemerintahannya maupun prilaku masyarakatnya terlebih dahulu.
Makassar menjadi pusat mobilitas yang begitu besar dengan wilayah yang cukup sempit. Begitu juga Perekonomian yang ada menjadi barometer bagi kemajuan dan kestabilan pembangunan dibanding dengan kota-kota lainnya. Namun sebagai kota metropolitan, Makassar dirundung banyak persoalan dan masalah yang menyebabkan semakin terpuruk diantaranya persoalan lingkungan yang dihadapi.
salah satu pejabat tinggi DPRD mengatakan,bahwa persoalan lingkungan adalah salah satu dari sejumlah persoalan Makassar yang pelik dan harus mendapat perhatian serius. Dimana Pengembangan wilayah Makassar yang tidak terkontrol, sistem pembuangan sampah yang masih primitif, sempitnya daerah serapan air, berkurangnya kawasan hijau, polusi udara, dan transportasi adalah sejumlah catatan terhadap kondisi lingkungan di Kota Makassar.
Tak hanya itu, permasalahan tata ruang dan perumahan dengan tingkat kepadatan tinggi, sistem transportasi terpadu, dan pembangunan infrastruktur fisik merupakan beberapa tantangan bagi pemerintah Makassar di masa yang akan datang.
“Hampir semua bangunan-bangunan baru di Kota Makassar telah mengabaikan aspek lingkungan diantaranya tak mengadakan ruang terbuka hijau yang memadai, serta di Makassar sendiri banyak lahan yang sejatinya bisa dijadikan taman hijau namun dengan perkembangan kota yang begitu pesat berubah menjadi bangunan ruko  serta bangunan hotel yang sudah merambah ke pemukiman warga.
kita akui, meningkatnya pembangunan di Kota Makassar tanpa adanya pengontrolan dikarenakan tak ada regulasi yang mengatur yakni Perda rencana tata ruang wilayah (RTRW). “Selama ini belum ada, maka dipastikan pembangunan di kota Makassar menjadi tak tertata dengan baik bahkan terkesan sangat semrawut. Kita lihat sendiri bangunan hotel pun sudah merambah ke pemukiman warga ini salah satu karena tak adanya zonasi wilayah yang mengatur.
Sementara itu, pesatnya pembangunan di kota Makassar memang berdampak negatif terhadap lingkungan yang ada. BLHD sendiri menurutnya berperan dalam melakukan pengawasan terhadap pencemaran lingkungan. “Masalah lingkungan merupakan masalah yang sangat kompleks, sehingga BLHD dalam hal ini berperan terus melakukan koordinasi dengan seluruh SKPD terkait pentingnya pemeliharaan lingkungan “.
Selain tingkat pengawasan pencemaran lingkungan, BLHD juga berkaitan dengan pengawasan Amdal. ” Amdal memegang peranan yang sangat penting dalam pengambilan keputusan pejabat yang berwenang dalam rangka memastikan bahwa pembangunan yang dilaksanakan dapat menjamin kelestarian dan keberlangsungan lingkungan hidup”.
Diakui,  dalam data yang tercatat oleh BLHD Kota Makassar, pencemaran yang disebabkan limbah pelaku usaha diantaranya restoran masih sangat tinggi, sehingga diperlukan pengawasan yang lebih ketat bagi para pelaku usaha di Kota Makassar, sementara pencemaran lingkungan udara, dinilai masih dalam kategori baik.
“Kita saat ini memang terus melakukan pemantauan dan pengawasan terkait itu, mereka yang tidak mengantongi izin amdal, atau tak memiliki instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) tentunya kita akan sangsi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, “.

Kriminalitas

Tidak heran Makassar terkenal di Indonesia sebagai kota Anarki, bisa dibayangkan tingkat kriminalitasnya juga tinggi, ini dikarenakan pengaruh eksternal dan internal dari masyarakat Sulawesi Selatan. Dari segi eksternal adalah suhu di Makassar dan Sekitarnya yang terbilang panas, hal ini mengakibatkan manusianya cepat naik darah atau emosi sehingga mengakibatkan berbagai tindak kejahatan. Sedangkan dari segi internal adalah kebudayan masyarakat Bugis Makassar yang menganut paham siri’ na pacce dan budaya minum Ballo’.

Selain faktor tersebut ada juga berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kriminalitas yang terjadi di daerah urban seperti kota Makassar yaitu, pengaruh lingkungan, kurangnya pendidikan dari keluarga utamanya orang tua, faktor ekonomi dan lain-lain.

Beberapa titik rawan krimilanal dan tindak kejahatan di kota Makssar adalah Pampang, Maccini, Kandea, Karuwisi dan sekitarnya, Hertasning Baru (Aroepala). Kriminalitas yang meresahkan warga tentu saja harus diberantas dengan cara memberi efek jera kepada pelakunya, hukuman yang ada pada UU harus ditegakkan tanpa ada memandang bulu. Juga dengan cara membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan syariah agama pada masyarakat.

 

Rahayu Utami,

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: