Rekrutmen Terbuka KOPHI Sulsel 2018

8 Jan

1515420297211

Bismillah..

Assalamualaikum.
Salam LestariūüćÉ
Halo Sobat KOPHI, mulai hari ini 07 Januari 2018 Hingga 5 February 2018 pendaftaran terbuka KOPHI Sulawesi Selatan SUDAH DIBUKA lho.

Persyaratan:
1. Pemuda usia 16-30 tahun
2. Sehat jasmani dan rohani
3. Berdomisili di Makassar dan sekitarnya
4. Memiliki komitmen dan loyalitas tinggi
5. Memiliki kepedulian dan wawasan terhadap lingkungan hidup
6. Mampu bekerjasama dalam tim
7. Bersedia aktif mengikuti kegiatan KOPHI Sulawesi Selatan selama satu periode kepengurusan (2018-2020)
8. Mengisi formulir pada https://goo.gl/forms/3zkjwCInh86dImjI3

Pilihan Divisi:
1. Divisi Penelitian dan Pengembangan
2. Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia
3. Divisi Media dan Komunikasi
4. Divisi Finansial
5. Divisi Humas

Informasi lebih lanjut:
WA: 085342496295 (Suarnagani)
Telepon: 082347222773 (Dadang)
OA Line KOPHI SULSEL : @xyq3313l

Ikuti media sosial kami lainya di:
Instagram: @kophi_sulsel
Twitter: @kophisulsel
Facebook: Kophi Sulsel

Salam LestariūüćÉ

 

Advertisements
Image

Mengenal KOPHI Sulsel

19 Aug

block_1

Lomba Fotografi Hutan Itu Indonesia

27 Apr

1493311833575

 

  • Latar Belakang

Indonesia sebagai negara pemilik hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia tentu memiliki kekayaan sumber daya alam serta keindahan rimbunan berbagai spesies flora-fauna yang tak ternilai harganya. Namun hanya segelintir masyarakat Indonesia yang memahami dan memaknai arti kehadiran hutan ditengah-tengah hingar bingar kehidupan urban dan globalisasi. Untuk itu, KOPHI Sulsel menyelenggarakan kompetisi Lomba Fotografi dengan tema utama Hutan Itu Indonesia. Tujuan utama yang ingin dicapai yaitu menjadikan kompetisi ini sebagai refleksi diri antara masyarakat Indonesia dengan kondisi hutan di Indonesia serta membuka mata masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan bahwa ada kesinambungan relasi yang menguntungkan antara manusia dan alam apabila manusia dan alam saling menjaga.

  • Tema Kegiatan

Lomba Fotografi ‚ÄúHutan Itu Indonesia‚ÄĚ akan mengusung 5 sub tema viral yang berkaitan dengan situasi dan kondisi hutan di Sulawesi Selatan, yaitu:

  1. Kehidupan Hutan Sulawesi Selatan
  2. Keindahan Hutan Sulawesi Selatan
  3. Hutan dan Budaya Bugis Makassar
  4. Kesejahteraan Petani Hutan di Sulawesi Selatan
  5. Sumberdaya dan Produk Hasil Hutan Sulawesi Selatan

Adapun persyaratan umum dan persyaratan khusus yang wajib dipenuhi oleh peserta adalah sebagai berikut:

Persyatan Umum:

Persyaratan Khusus:

  1. Karya foto yang berasal dari jenis kamera digital, kamera DSLR dan kamera mirrorless (foto berwarna) dalam bentuk softcopy
  2. Tema foto disesuaikan dengan salah satu sub tema lomba
  3. Karya softcopy sudah diformat dengan ukuran  4R-6R, besar file yang dikirim tidak boleh lebih dari 25 MB
  4. Menyertakan nama, nomor handphone, judul foto, tanggal pengambilan gambar, dan lokasi pengambilan gambar bersama karya foto ke email kophisulsel@gmail.com dengan Subject ‚ÄúLomba Fotografi HII KOPHI Sulsel‚ÄĚ. Apabila peserta tidak mencantumkan biodata dengan lengkap dan jelas, maka akan dinyatakan gugur
  5. Dilarang menambahkan tulisan atau gambar apa pun ke dalam karya foto yang dilombakan.
  6. Editing foto diperkenankan hanya sebatas kamar gelap (contras, hue, dodging, burning, saturation, level, curve, noise reduction/dust removing) tidak ada cropping, dan tidak boleh mengubah warna asli
  7. Karya yang dikirimkan tidak pernah dilombakan atau dipamerkan sebelumnya serta tidak boleh menggunakan materi gambar/foto yang melanggar hak cipta
  8. Karya tidak boleh mengandung unsur pornografi, SARA, sadisme atau hal-hal yang bersifat merendahkan atau melecehkan pihak lain
  9. Karya harus asli buatan sendiri dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun
  10. Keputusan Juri tidak boleh digugat dan bersifat mutlak
  • Pengumuman

Lomba Fotografi Hutan Itu Indonesia akan berlangsung sampai tanggal 10 Mei 2017. Pengumuman akan jatuh pada hari Jumat, 12 Mei 2017 melalui media sosial KOPHI Sulsel dan via SMS kepada para pemenang. Para pemenang akan diundang untuk menghadiri Festival Panrangnuangku Ri Romanga serta hadiah yang akan diberikan kepada para pemenang yaitu

Juara I : Rp2.000.000 + Sertifikat

Juara II : Rp1.500.000 + Sertifikat

Juara III : Rp1.000.000 + Sertifikat

Juara Favorit : Rp500.000 + Sertifikat

SALAM LESTARI

Biogas, Energi Terbarukan sebagai Bahan Bakar Alternatif

27 Apr

picsart_04-21-12-56-41

Sobat KOPHI, karena topik kita bulan ini adalah tentang ‚Äėenergi‚Äô, kita akan membahas mengenai energi terbarukan yang berasal dari proses biologi, yaitu ‚Äėbiogas‚Äô. Istilah biogas sudah tidak asing lagi di telinga kita, utamanya bagi yang sering bergelut di bidang lingkungan, pertanian, peternakan, maupun bidang kimia dan biologi. Biogas juga disebut-sebut memiliki potensi untuk berkembang menjadi bahan bakar alternatif serupa LPG yang dapat digunakan untuk memasak. Untuk mengetahui secara lebih lanjut, mari kita kenalan dengan energi biogas.

bioooo

Sebenarnya, apa itu biogas?

Biogas merupakan gas yang terbentuk dari proses pembusukan atau fermentasi bahan-bahan  organik, seperti kotoran ternak, limbah rumah tangga, limbah pertanian, serasah, dan lain-lain, yang dilakukan oleh bakteri-bakteri yang hidup tanpa oksigen yang ada di udara (anaerob). Gas yang dihasilkan dari biogas didominasi oleh metana yakni 55-75% dan karbon dioksida sebanyak 25-45%.

Bagaimana sejarah penemuan biogas?

Jadi, kandungan dalam biogas yakni gas metan sebenarnya telah lama digunakan untuk menghasilkan panas oleh warga Mesir , China, dan Romawi Kuno. Pada tahun 1776, Alessandro Volta, seorang fisikawan Italia yang mempelajari kimia gas, kemudian menemukan gas metan dari proses pembusukan bahan organik di rawa-rawa. Hasil identifikasi gas metan yang dapat terbakar dilakukan oleh Willam Henry pada tahun 1806. Dan di tahun 1882, Becham, seorang murid dari Louis Pasteur dan Tappeiner, pertama kali memperlihatkan pembentukan gas metan secara mikrobiologis. Lalu, riset demi riset dilakukan oleh Jerman dan Perancis hingga selama perang dunia II berlangsung, pemanfaatan biogas sudah dilakukan petani di Eropa untuk menggerakkan traktor. Di Indonesia sendiri, teknologi biogas mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an dan mulai dikembangkan pada tahun 1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas yang diusung oleh Food and Agriculture Organization (FAO).

Lalu, bagaimana biogas itu terbentuk?

Pada umumnya, pembuatan biogas dari limbah kotoran dan limbah rumah tangga dilakukan dalam sebuah reaktor atau digester yang tertutup rapat sehingga tidak ada oksigen yang masuk karena proses yang terjadi yakni secara anaerob. Adapun proses-proses yang terjadi di dalam digester untuk menghasilkan gas metan (CH4) dimulai dari tahap hidrolisis yang mengurai molekul organik komplek menjadi bentuk yang lebih sederhana misalnya karbohidrat, asam amino, dan asam lemak. Selanjutnya tahap asidogenesis, yakni terjadinya penguraian yang menghasilkan amonia, karbondioksida, dan hidrogen sulfide. Kemudian tahap asetagenesis yakni penguraian produk asidogenesis menjadi hidrogen, karbon dioksida, dan asetat. Dan terakhir adalah methanogenesis, yakni menguraikan dan mensintesis produk dari proses asetagenesis sehingga menghasilkan gas metan (CH4), juga hasil lain seperti  karbon dioksida, air, dan senyawa gas lainnya dengan jumlah yang lebih kecil.

Apakah kelebihan dan kekurangan penggunaan biogas?

Gas metan yang dihasilkan oleh biogas ini jika ditampung di sebuah digester lalu ditempatkan dalam sebuah tabung maka dapat berpotensi untuk menjadi alternatif bahan bakar seperti tabung elpiji yang digunakan untuk memasak. Di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pangkep dan Enrekang, bahkan sudah melakukan peluncuran kompor biogas dan uji coba penggunaannya, dan hal tersebut sangat menguntungkan apalagi di kalangan petani yang dapat memanfaatkan limbah pertanian atau kotoran sapinya tidak hanya sebagai bahan baku pembuatan biogas, tetapi juga  dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair sehingga petani dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli pupuk. Adapun kekurangan atau kendala dari penggunaan biogas yakni masalah teknis yang membutuhkan instalasi yang tepat sehingga gas metan terbentuk sempurna. Karena proses yang terjadi adalah anaerob, maka harus dipastikan tidak ada oksigen dari luar yang terlibat selama proses berlangsung. Jadi, perangkaian alat dan pembuatan biogas harus dilakukan dengan teliti.

Nah, sudah terlihat kan betapa bermanfaatnya teknologi biogas ini dalam pengelolaan limbah yang tidak terpakai, seperti limbah pertanian, limbah rumah tangga, atau kotoran ternak yang dapat digunakan lagi sebagai bahan baku pembuatan biogas, bahkan juga dapat menghasilkan pupuk untuk dikembalikan lagi ke tanah sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman.

Semoga bermanfaat!

[am]


Referensi

Anonim. 2012. Biogas. http://kp4.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2014/06/Materi-Biogas.pdf diakses pada tanggal 20 April 2017

Anonim. 2009. Peternak sapi embangkan kompor biogas . http://manado.antaranews.com/berita/12078/peternak-sapi-kembangkan-kompor-biogas diakses pada tanggal 27 April 2017

Anonim. 2016. Bupati Pangkep launching kompor gas di labbakkang. http://makassar.tribunnews.com/2016/12/21/bupati-pangkep-launching-kompor-biogas-di-labbakkang diakses pada tanggal 27 April 2017

Rahmatiah. 2014. Biogas Sebagai Sumber Energi Alternatif. Artikel EBuletin LPMP Sulsel . ISSN. 2355-3189. Desember 2014

Selly. 2010. Sejarah perkembangan biogas. http://sellyr06.alumni.ipb.ac.id/2010/07/16/sejarah-perkembangan-biogas/ diakses ada tanggal 20 April 2017

biogas_23929460_996c83784b335a621f0e9425f5e933e3bfb4fce8

Hutan Itu Indonesia

8 Apr

1490531357958

Hutan adalah bagian dari identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Selain dari fungsi umum yaitu sebagai paru-paru dunia, Hutan Indonesia adalah hutan hujan tropis ke-3 terbesar di dunia. Walau hanya menutupi 1% permukaan bumi, namun keanekaragaman hayati hutan Indonesia terdiri dari 10% spesies flora, 12% spesies mamalia dan 17% spesies burung dari total keanekaragaman hayati hutan dunia. Sebagian dari masyarakat Indonesia umumnya mengenal kurang lebih hanya setengah dari semua spesies hutan Indonesia. Begitu banyak suku-suku di seluruh Indonesia yang mempunyai hubungan budaya dan spiritual yang erat kaitannya dengan hutan, menjadi penjaga hutan misalnya. Sehingga KOPHI ingin mengembalikan istilah ‚ÄúZamrud Khatulistiwa‚ÄĚ. KOPHI ingin hutan menjadi Top of Mind masyarakat Indonesia di masa mendatang.

Sebagai komunitas hijau, KOPHI berkolaborasi dengan KOPHI Provinsi, salah satunya KOPHI Sulsel berinisiatif melakukan aksi pelestarian hutan bertaraf nasional dengan nama Hutan Itu Indonesia. Aksi pelestarian lingkungan bertaraf nasional ini diinisiasikan karena KOPHI menyadari bahwa dengan bersinergi dengan daerah lain dan bergerak bersama-sama akan menghasilkan dampak positif yang lebih besar. Aksi nasional ini akan dilaksanakan di 7 daerah di Indonesia yang terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan berbeda di setiap provinsi namun akan mengadakan acara puncak serentak pada tanggal 13 Mei 2017. Tanggal tersebut diambil karena 13 Mei merupakan Anniversary Moratorium Perlindungan Hutan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. Dengan hasil kolaborasi bersama KOPHI Provinsi lainnya, hadirilah event lingkungan terbesar tahun ini

HUTAN ITU INDONESIA

Yang terdiri dari berbagai rangkaian acara berupa:

  • Lomba Fotografi ‚ÄúHutan Itu Indonesia”
  • Instagram Photo Contest
  • Roadshow & Workshop 5 Kampus ‚ÄúHutan Itu Indonesia‚ÄĚ
  • Festival Panrangnuangku Ri Romanga

 

Mari perluas wawasan anda mengenai pentingnya keberadaan hutan di kehidupan kita. Pantau terus informasi selanjutnya tentang Hutan Itu Indonesia dan raih hadiah menarik di setiap acaranya.

 

SALAM LESTARI

Mengenal “Sampah Makanan”, Salah Satu Kontributor Perubahan Iklim

1 Oct

food-loss-food-waste

Menurut FAO, sampah makanan berarti jumlah sampah yang dihasilkan pada saat proses pembuatan makanan maupun setelah kegiatan makan yang berhubungan dengan prilaku penjual dan konsumennya.

Sampah makanan dapat berasal dari perilaku yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Makanan yang akan tumpah atau membusuk sebelum mencapai produk akhir atau tahap ritel disebut kehilangan makanan / food loss. Hal ini dapat terjadi karena terdapat masalah pada saat panen, penyimpanan, pengepakan, transportasi, infrastruktur atau mekanisme pasar / harga, serta kerangka kerja kelembagaan dan hukum.

Sebagai contoh, pisang yang dipanen jatuh dari truk, dianggap sebagai kehilangan makanan (food loss). Sedangkan, makanan yang layak untuk dikonsumsi manusia, tetapi tidak dikonsumsi karena rusak atau dibuang oleh pengecer atau konsumen disebut limbah makanan. Limbah makanan dapat disebabkan karena buruknya aturan penandaan makanan masuk dan keluar, sehingga banyak makanan yang terbuang percuma karena kadaluwarsa, penyimpanan yang tidak tepat,  dan membeli atau praktek memasak.

Menurut data tahun 2010, Amerika Serikat menghasilkan 34 juta ton sampah makanan dan hanya 3 persen yang mampu di daur ulang kembali. Di Inggris, 1/3 makanan yang dibeli oleh setiap penduduknya berakhir di tempat sampah, yang juga berarti setiap keluarga di Inggris setiap tahunnya membuang makanan seharga 400 poundsterling (5,9 juta rupiah).

Untuk tingkat dunia (data tahun 2010), sampah makanan mencapai 1,3 Triliun ton yang dibuang setiap tahun. Jumlah tersebut merupakan sepertiga dari jumlah makanan yang diproduksi. Dengan rincian 40% sampah makanan yang dihasilkan negara berkembang berasal dari proses produksi, sedangkan untuk industrialized country, menghasilkan 40% sampah makanan pada saat berada ditangan konsumen.

Kenapa Food Loss dan Food Waste adalah sebuah masalah?

Food Loss dan Food Waste menjadi sebuah masalah karena untuk memproduksi makanan yang akhirnya menjadi sampah dan dibuang tersebut, digunakan 25% dari seluruh air bersih yang tersedia atau setara telah menghabiskan 600 kubik kilometer air. Padahal, 1.1 juta orang di dunia tidak memiliki akses air minum.

Selain itu, 300 juta galon minyak bumi dan penebangan hutan seluas 9,7 juta hektar untuk budidaya tanaman pangan, akan menjadi terbuang sia-sia karena makanan yang diproduksi menjadi sampah.

Perlu diketahui dengan membuang makanan tentu saja membuang sumber daya dan energi yang lain. Misalnya kita membuang 1 liter susu, berarti kita juga membuang air yang diperlukan untuk membuat susu itu beserta energi yang diperlukan untuk membuat 1 liter susu. Belum lagi makanan untuk ternak sapi perah susu, bahkan jika sapi tersebut makan rerumputan berarti kita juga membuang air sebanyak yang dibutuhkan untuk menumbuhkan rerumputan tersebut.

Menurut Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Surabaya (ITS), FAO memperkirakan bahwa sepertiga dari produksi pangan global akan terbuang atau hilang. Limbah makanan itu menguras potensi sumber daya alam yang besar, namun justru menjadi kontributor terhadap dampak lingkungan yang negatif.

Setelah berada di tempat pembuangan sampah, makanan rusak akan menghasilkan gas metan. Metana 23 kali lebih kuat daripada CO2 untuk menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca yang memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim saat ini. Menurut FAO, sampah makanan memberikan kontribusi sebesar 8% emisi GHG (Green House Gas).

Karena efek rumah kaca, sinar matahari memancarkan radiasi ultraviolet ke bumi yang akan diterima oleh bumi dan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah. Atmosfer akan meneruskan radiasi inframerah ini ke luar angkasa. Namun karena terdapat gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer akan menghalanginya sehingga dipantulkannya kembali radiasi inframerah ini ke bumi. Ditambah dengan radiasi ultraviolet dari matahari, akan menyebabkan naiknya suhu permukan bumi.

Efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5¬įC. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global. Karena itu makanan yang terbuang di tempat sampah berkontribusi ¬†cukup besar terhadap pemanasan global.

Selain daripada itu sisa makanan mengandung konten organik dan kelembaban tinggi, ketika membusuk akan menghasilkan bau menyengat yang akan berdampak serius terhadap lingkungan hidup dan kesehatan kita. Dengan mengurangi sampah makanan, secara tidak langsung kita juga mengurangi resiko terjadinya climate change atau perubahan iklim. Berdasarkan FAO, Jika pemanfaatan makanan dan proses distribusi dapat dioptimalkan atau ditata secara baik, maka 14% dari seluruh emisi GHG yang berasal dari sektor pertanian, dapat direduksi pada 2050.

Apa yang harus dilakukan?

Di beberapa negara di Benua Eropa dan Amerika Serikat, sampah sisa makanan telah menjadi topik pengelolaan sampah yang dibicarakan secara khusus. Di Amerika Serikat pada khususnya, kampanye mengenai food recovery hierarchy telah disebarluaskan kepada masyarakat. Food recovery hierarchy ini mengedapankan pengurangan sampah makanan di sumber dan menjadikan penimbunan di landfill sebagai opsi yang paling dihindari. Sebagai contoh lain, Negara Singapura telah melakukan pilot project daur ulang sampah makanan menjadi bahan kompos dan pembangkit energi pada tahun 2010.

food-waste-recovery-hierarchy

Sedangkan di Indonesia pengelolaan sampah makanan masih dimasukkan ke dalam pengelolaan sampah kota, dimana hal ini akan memperpendek jangka waktu pemakaian landfill itu sendiri, sampah makanan yang mudah terurai dan dapat dikelola secara terpisah tetap ditimbun di dalam landfill.

Menurut Khoo HH et al (2009), dari beberapa alternatif pengelolaan sampah makanan yang tersedia, metode composting dan penggunaan metode anaerobic digestion merupakan metode daur ulang sampah makanan yang cukup berhasil.

MoS2 Template Master

Keunggulan dari metode ini yaitu:

  1. Penggunaan food digester skala rumah tangga perkotaan dapat mengurangi penggunaan LPG 100 kg atau 250 liter minyak tanah yang ekuivalen dengan 300-600 kg CO2/ tahun.
  2. Untuk rumah tangga perdesaan mengurangi 3 ton kayu per tahun yang akan menghasilkan 5 ton CO2 kalau dibakar.
  3. Metana terbakar dengan warna biru tanpa menghasilkan asap yang banyak. Berbeda dengan bahan bakar kayu.
  4. Efluen dari digester dapat digunakan sebagai pupuk cair.

Selain itu, untuk mengatasi masalah sampah makanan ini juga bisa dengan membuat Food Bank. Dimana Food bank berperan sebagai pusat koordinasi makanan sisa dan sumbangan dari berbagai sumber. Mulai dari pabrik makanan, restoran, hingga rumah tangga. Nantinya makanan itu diolah, disimpan, dijual, dan disumbangkan kepada konsumen yang membutuhkan, seperti posko pengungsian, panti asuhan, dan sekolah. Jadi, makanan tidak akan terbuang percuma dan masyarakat yang membutuhkanpun bisa tercukupi makanannya.

Berikut beberapa tips untuk menghindari makanan bersisa:

  1. Jika anda hendak makan direstoran, pilihlah restoran yang menyajikan makanan sesuai dengan porsi makan anda. Hanya memesan makanan yang sekiranya benar-benar akan dimakan dan habis. Atau bisa beralih ke restoran prasmanan di mana kita yang menentukan porsi makanan sendiri
  2. Jika anda hendak mengadakan sebuah acara jamuan makan atau pesta perkirakan jumlah tamu yang akan datang dan sesuaikan dengan banyaknya makanan yang akan dihidangkan. Sisa hidangan pesta yang masih memungkinkan bisa simpan di lemari pendingin. Sehingga nanti bisa dimasak kembali dengan resep yang berbeda sehingga tidak bosan.
  3. Sesuaikan belanjaan bahan makanan dengan menu yang kan dibuat.
  4. Jangan pernah membeli makanan yang cepat busuk jika tidak ingin segera mengolahnya.
  5. Membeli makanan di pasar lokal, agar mengurangi biaya transportasi makanan.

Jangan buang-buang makanan ya!

Salam lestari!


Sumber:

http://www.fao.org/food-loss-and-food-waste/en/

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-09-11/limbah-makanan-emiten-karbon-ketiga-terbesar-di-dunia/1189427

http://www.zetizen.com/show/1284/food-bank-penyalur-sisa-makanan

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2013/07/19/nasib-makanan-terbuang-global-warming/

http://www.banksampahmelatibersih.com/2013/04/fakta-tentang-sampah-makanan-food-waste.html#.V-KmjzXcDmE

http://blh.probolinggokota.go.id/biogas-dari-sampah-makanan-food-digester/

BAKSOS Bersama KOPHI Sulsel : “NGUPAS” (Ngumpul Sampah Dapat Sembako)

25 Jun

‚ÄúPerumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.‚ÄĚ (QS. Al Baqarah: 261)

Bulan Ramadhan menjadi ajang berlomba-lomba dalam kebaikan. Salah satu amal kebaikan yang ramai dilaksanakan di bulan Ramadhan ialah bersedekah. Sesuai dengan Ayat di atas, bersedekah merupakan amal ibadah yang tidak mengurangi harta, justru malah akan terus bertambah dan bertambah.

Mengingat pentinganya berbagi, khususnya di bulan yang suci ini, Koalisi Pemuda Hijau Sulawesi Selatan (KOPHI SulSel) menggelar kegiatan Baksos atau Bakti Sosial untuk mengisi kegiatan amaliah Ramadhan pada tahun ini. Namun, dengan tetap berfokus pada peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat, KOPHI sebagai wadah para agen perubahan, menggelar Bakti Sosial yang mengombinasikan antara berbagi dan menjaga kebersihan lingkungan.

Mengusung kegiatan yang bernama NGUPAS (Ngumpul Sampah Dapat Sembako), para anggota Kophi Sulsel terjun langsung ke masyarakat, tepatnya di daerah pemukiman yang terbilang kumuh dan minim kesadaran lingkungan untuk memberikan sosialisasi kepada warga sekitar mengenai pemilahan sampah anorganik dan organik khususnya sampah plastik yang kemudian dirangkaian dengan penukaran hasil pemilahan sampah plastik mereka untuk bantuan berupa sembako. Setiap 1 kg sampah plastik yang berhasil dikumpulkan oleh warga dapat ditukar dengan 1 paket sembako. Dimana dana yang digunakan untuk pengadaan sembako ini berasal dari donasi yang terkumpul di kas KOPHI Sulsel.

1466865830312

suasana NGUPAS (24/06/2016)

1466865828809

Suasana Ngupas (24/06/2016)

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (24/06/2016), di Jalan Gatot Subroto IV Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan ini terbilang kegiatan unik yang dilakukan oleh KOPHI Sulsel. Menurut ketua Panitia NGUPAS, Nadya, Ibarat  sambil menyelam minum air, aksi ini tidak terbatas pada kegiatan bersedekah tetapi juga edukasi gaya hidup hijau pada masyarakat yang tidak hanya kurang secara ekonomi tetapi juga kurang dalam hal pengetahuan akan lingkungan.

Hal ini tentu saja merupakan terobosan baru yang dilakukan oleh KOPHI Sulsel sekaligus menginspirasi para penggiat lingkungan lainnya untuk dapat melakukan aksi kampanye hijau dengan metode yang kreatif nan efektif.

Salam Lestari!

[zah]