Lomba Fotografi Hutan Itu Indonesia

27 Apr

1493311833575

 

  • Latar Belakang

Indonesia sebagai negara pemilik hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia tentu memiliki kekayaan sumber daya alam serta keindahan rimbunan berbagai spesies flora-fauna yang tak ternilai harganya. Namun hanya segelintir masyarakat Indonesia yang memahami dan memaknai arti kehadiran hutan ditengah-tengah hingar bingar kehidupan urban dan globalisasi. Untuk itu, KOPHI Sulsel menyelenggarakan kompetisi Lomba Fotografi dengan tema utama Hutan Itu Indonesia. Tujuan utama yang ingin dicapai yaitu menjadikan kompetisi ini sebagai refleksi diri antara masyarakat Indonesia dengan kondisi hutan di Indonesia serta membuka mata masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan bahwa ada kesinambungan relasi yang menguntungkan antara manusia dan alam apabila manusia dan alam saling menjaga.

  • Tema Kegiatan

Lomba Fotografi “Hutan Itu Indonesia” akan mengusung 5 sub tema viral yang berkaitan dengan situasi dan kondisi hutan di Sulawesi Selatan, yaitu:

  1. Kehidupan Hutan Sulawesi Selatan
  2. Keindahan Hutan Sulawesi Selatan
  3. Hutan dan Budaya Bugis Makassar
  4. Kesejahteraan Petani Hutan di Sulawesi Selatan
  5. Sumberdaya dan Produk Hasil Hutan Sulawesi Selatan

Adapun persyaratan umum dan persyaratan khusus yang wajib dipenuhi oleh peserta adalah sebagai berikut:

Persyatan Umum:

Persyaratan Khusus:

  1. Karya foto yang berasal dari jenis kamera digital, kamera DSLR dan kamera mirrorless (foto berwarna) dalam bentuk softcopy
  2. Tema foto disesuaikan dengan salah satu sub tema lomba
  3. Karya softcopy sudah diformat dengan ukuran  4R-6R, besar file yang dikirim tidak boleh lebih dari 25 MB
  4. Menyertakan nama, nomor handphone, judul foto, tanggal pengambilan gambar, dan lokasi pengambilan gambar bersama karya foto ke email kophisulsel@gmail.com dengan Subject “Lomba Fotografi HII KOPHI Sulsel”. Apabila peserta tidak mencantumkan biodata dengan lengkap dan jelas, maka akan dinyatakan gugur
  5. Dilarang menambahkan tulisan atau gambar apa pun ke dalam karya foto yang dilombakan.
  6. Editing foto diperkenankan hanya sebatas kamar gelap (contras, hue, dodging, burning, saturation, level, curve, noise reduction/dust removing) tidak ada cropping, dan tidak boleh mengubah warna asli
  7. Karya yang dikirimkan tidak pernah dilombakan atau dipamerkan sebelumnya serta tidak boleh menggunakan materi gambar/foto yang melanggar hak cipta
  8. Karya tidak boleh mengandung unsur pornografi, SARA, sadisme atau hal-hal yang bersifat merendahkan atau melecehkan pihak lain
  9. Karya harus asli buatan sendiri dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun
  10. Keputusan Juri tidak boleh digugat dan bersifat mutlak
  • Pengumuman

Lomba Fotografi Hutan Itu Indonesia akan berlangsung sampai tanggal 10 Mei 2017. Pengumuman akan jatuh pada hari Jumat, 12 Mei 2017 melalui media sosial KOPHI Sulsel dan via SMS kepada para pemenang. Para pemenang akan diundang untuk menghadiri Festival Panrangnuangku Ri Romanga serta hadiah yang akan diberikan kepada para pemenang yaitu

Juara I : Rp2.000.000 + Sertifikat

Juara II : Rp1.500.000 + Sertifikat

Juara III : Rp1.000.000 + Sertifikat

Juara Favorit : Rp500.000 + Sertifikat

SALAM LESTARI

Biogas, Energi Terbarukan sebagai Bahan Bakar Alternatif

27 Apr

picsart_04-21-12-56-41

Sobat KOPHI, karena topik kita bulan ini adalah tentang ‘energi’, kita akan membahas mengenai energi terbarukan yang berasal dari proses biologi, yaitu ‘biogas’. Istilah biogas sudah tidak asing lagi di telinga kita, utamanya bagi yang sering bergelut di bidang lingkungan, pertanian, peternakan, maupun bidang kimia dan biologi. Biogas juga disebut-sebut memiliki potensi untuk berkembang menjadi bahan bakar alternatif serupa LPG yang dapat digunakan untuk memasak. Untuk mengetahui secara lebih lanjut, mari kita kenalan dengan energi biogas.

bioooo

Sebenarnya, apa itu biogas?

Biogas merupakan gas yang terbentuk dari proses pembusukan atau fermentasi bahan-bahan  organik, seperti kotoran ternak, limbah rumah tangga, limbah pertanian, serasah, dan lain-lain, yang dilakukan oleh bakteri-bakteri yang hidup tanpa oksigen yang ada di udara (anaerob). Gas yang dihasilkan dari biogas didominasi oleh metana yakni 55-75% dan karbon dioksida sebanyak 25-45%.

Bagaimana sejarah penemuan biogas?

Jadi, kandungan dalam biogas yakni gas metan sebenarnya telah lama digunakan untuk menghasilkan panas oleh warga Mesir , China, dan Romawi Kuno. Pada tahun 1776, Alessandro Volta, seorang fisikawan Italia yang mempelajari kimia gas, kemudian menemukan gas metan dari proses pembusukan bahan organik di rawa-rawa. Hasil identifikasi gas metan yang dapat terbakar dilakukan oleh Willam Henry pada tahun 1806. Dan di tahun 1882, Becham, seorang murid dari Louis Pasteur dan Tappeiner, pertama kali memperlihatkan pembentukan gas metan secara mikrobiologis. Lalu, riset demi riset dilakukan oleh Jerman dan Perancis hingga selama perang dunia II berlangsung, pemanfaatan biogas sudah dilakukan petani di Eropa untuk menggerakkan traktor. Di Indonesia sendiri, teknologi biogas mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an dan mulai dikembangkan pada tahun 1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas yang diusung oleh Food and Agriculture Organization (FAO).

Lalu, bagaimana biogas itu terbentuk?

Pada umumnya, pembuatan biogas dari limbah kotoran dan limbah rumah tangga dilakukan dalam sebuah reaktor atau digester yang tertutup rapat sehingga tidak ada oksigen yang masuk karena proses yang terjadi yakni secara anaerob. Adapun proses-proses yang terjadi di dalam digester untuk menghasilkan gas metan (CH4) dimulai dari tahap hidrolisis yang mengurai molekul organik komplek menjadi bentuk yang lebih sederhana misalnya karbohidrat, asam amino, dan asam lemak. Selanjutnya tahap asidogenesis, yakni terjadinya penguraian yang menghasilkan amonia, karbondioksida, dan hidrogen sulfide. Kemudian tahap asetagenesis yakni penguraian produk asidogenesis menjadi hidrogen, karbon dioksida, dan asetat. Dan terakhir adalah methanogenesis, yakni menguraikan dan mensintesis produk dari proses asetagenesis sehingga menghasilkan gas metan (CH4), juga hasil lain seperti  karbon dioksida, air, dan senyawa gas lainnya dengan jumlah yang lebih kecil.

Apakah kelebihan dan kekurangan penggunaan biogas?

Gas metan yang dihasilkan oleh biogas ini jika ditampung di sebuah digester lalu ditempatkan dalam sebuah tabung maka dapat berpotensi untuk menjadi alternatif bahan bakar seperti tabung elpiji yang digunakan untuk memasak. Di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pangkep dan Enrekang, bahkan sudah melakukan peluncuran kompor biogas dan uji coba penggunaannya, dan hal tersebut sangat menguntungkan apalagi di kalangan petani yang dapat memanfaatkan limbah pertanian atau kotoran sapinya tidak hanya sebagai bahan baku pembuatan biogas, tetapi juga  dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair sehingga petani dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli pupuk. Adapun kekurangan atau kendala dari penggunaan biogas yakni masalah teknis yang membutuhkan instalasi yang tepat sehingga gas metan terbentuk sempurna. Karena proses yang terjadi adalah anaerob, maka harus dipastikan tidak ada oksigen dari luar yang terlibat selama proses berlangsung. Jadi, perangkaian alat dan pembuatan biogas harus dilakukan dengan teliti.

Nah, sudah terlihat kan betapa bermanfaatnya teknologi biogas ini dalam pengelolaan limbah yang tidak terpakai, seperti limbah pertanian, limbah rumah tangga, atau kotoran ternak yang dapat digunakan lagi sebagai bahan baku pembuatan biogas, bahkan juga dapat menghasilkan pupuk untuk dikembalikan lagi ke tanah sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman.

Semoga bermanfaat!

[am]


Referensi

Anonim. 2012. Biogas. http://kp4.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2014/06/Materi-Biogas.pdf diakses pada tanggal 20 April 2017

Anonim. 2009. Peternak sapi embangkan kompor biogas . http://manado.antaranews.com/berita/12078/peternak-sapi-kembangkan-kompor-biogas diakses pada tanggal 27 April 2017

Anonim. 2016. Bupati Pangkep launching kompor gas di labbakkang. http://makassar.tribunnews.com/2016/12/21/bupati-pangkep-launching-kompor-biogas-di-labbakkang diakses pada tanggal 27 April 2017

Rahmatiah. 2014. Biogas Sebagai Sumber Energi Alternatif. Artikel EBuletin LPMP Sulsel . ISSN. 2355-3189. Desember 2014

Selly. 2010. Sejarah perkembangan biogas. http://sellyr06.alumni.ipb.ac.id/2010/07/16/sejarah-perkembangan-biogas/ diakses ada tanggal 20 April 2017

Roadshow Perdana “Hutan itu Indonesia” 2017 di Universitas Hasanuddin Makassar

19 Apr

Salah satu rangkaian acara #MenujuHariHutanIndonesia di Makassar, yakni Roadshow 5 Kampus telah sukses diselenggarakan di Gedung IPTEKS Universitas Hasanuddin hari ini (19/4). UNHAS menjadi kampus pertama yang menjadi lokasi roadshow dari lima kampus besar yang ada di Makassar. Event ini terselenggara dari kolaborasi tim Hutan itu Indonesia dan KOPHI yang kali ini bekerja sama dengan Lembaga Penalaran dan Penulisan Karya Ilmiah (LP2KI) Fakultas Hukum Unhas dengan mengusung talkshow dengan tema tentang Hutan di Indonesia. Adapun pemateri pada talkshow ini berasal dari perwakilan pihak Hutan itu Indonesia, kak Rinawati Eko Lestari serta perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bapak Ir. Muhammad Abidin, M.Si.

1

Suasana registrasi peserta talkshow

Acara talkshow Hutan itu Indonesia (HII) diawali dengan pembukaan kegiatan dan dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua panitia, perwakilan KOPHI Regional Sulawesi Selatan, serta perwakilan Hutan itu Indonesia.

2

Sambutan ketua panitia

Kak Rina, selaku pemateri pertama, banyak menjelaskan tentang event Hutan itu Indonesia mulai dari tujuan pelaksanaan HII, pentingnya fungsi hutan secara umum, hingga acara-acara yang telah diselenggarakan di kota lain. Ternyata nih, HII sudah melakukan banyak kegiatan seperti ‘Ayo Lari ke Hutan’ yang nantinya para pelari dapat mengadopsi satu pohon setiap melewati lima kilometer. Selain itu, ada festival musik bernuansa hutan bertajuk Musika Foresta yang melibatkan musisi-musisi ternama seperti Astrid, Glenn Fredly, dan lainnya. Ada juga pameran hasil hutan yang terselenggara atas kerjasama dengan KLHK.

5

Kak Rinawati Eko Lestari menjelaskan tentang Hutan itu Indonesia

Selanjutnya, pemateri kedua, Bapak Muhammad Abidin, memaparkan mengenai potensi kekayaan hutan Indonesia mulai dari hasil-hasil hutan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia seperti kayu putih, bambu dan gaharu. Selain menghasilkan produk, hutan juga dapat berfungsi sebagai sarana pelestarian hewan endemik, salah satunya anoa yang menjadi hewan khas Sulawesi. Wah, ternyata hutan itu punya banyak manfaat tidak hanya sebagai penyuplai oksigen dan penyerap karbondioksida, tetapi juga dapat bermanfaat dari segi produk untuk kehidupan manusia, juga berperan sebagai tempat tinggal para hewan endemik.

6

Bapak Muhammad Abidin sedang memaparkan materi

Dari talkshow ini memberikan pesan kepada kita, utamanya generasi muda, untuk ikut andil dalam mengembalikan eksistensi hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia. Kita sudah sepatutnya menjaga kelestarian hutan serta apapun yang ada di dalamnya, karena kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

4

Antusias para peserta talkshow

Selanjutnya di akhir acara, ada penyerahan kenang-kenangan berupa plakat ‘Hutan itu Indonesia’ kepada para pemateri, juga tidak ketinggalan ada kejutan untuk peserta yang memenangkan Instagram Photo Roadshow Contest selama event berlangsung. Selamat kepada pemenang!

Demikianlah keseruan Roadshow 5 kampus Hutan itu Indonesia di kampus pertama yakni Unhas. Nantikan kami pada Roadshow di kampus berikutnya ya!

Salam Lestari!

[am]

Hutan Itu Indonesia

8 Apr

1490531357958

Hutan adalah bagian dari identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Selain dari fungsi umum yaitu sebagai paru-paru dunia, Hutan Indonesia adalah hutan hujan tropis ke-3 terbesar di dunia. Walau hanya menutupi 1% permukaan bumi, namun keanekaragaman hayati hutan Indonesia terdiri dari 10% spesies flora, 12% spesies mamalia dan 17% spesies burung dari total keanekaragaman hayati hutan dunia. Sebagian dari masyarakat Indonesia umumnya mengenal kurang lebih hanya setengah dari semua spesies hutan Indonesia. Begitu banyak suku-suku di seluruh Indonesia yang mempunyai hubungan budaya dan spiritual yang erat kaitannya dengan hutan, menjadi penjaga hutan misalnya. Sehingga KOPHI ingin mengembalikan istilah “Zamrud Khatulistiwa”. KOPHI ingin hutan menjadi Top of Mind masyarakat Indonesia di masa mendatang.

Sebagai komunitas hijau, KOPHI berkolaborasi dengan KOPHI Provinsi, salah satunya KOPHI Sulsel berinisiatif melakukan aksi pelestarian hutan bertaraf nasional dengan nama Hutan Itu Indonesia. Aksi pelestarian lingkungan bertaraf nasional ini diinisiasikan karena KOPHI menyadari bahwa dengan bersinergi dengan daerah lain dan bergerak bersama-sama akan menghasilkan dampak positif yang lebih besar. Aksi nasional ini akan dilaksanakan di 7 daerah di Indonesia yang terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan berbeda di setiap provinsi namun akan mengadakan acara puncak serentak pada tanggal 13 Mei 2017. Tanggal tersebut diambil karena 13 Mei merupakan Anniversary Moratorium Perlindungan Hutan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. Dengan hasil kolaborasi bersama KOPHI Provinsi lainnya, hadirilah event lingkungan terbesar tahun ini

HUTAN ITU INDONESIA

Yang terdiri dari berbagai rangkaian acara berupa:

  • Lomba Fotografi “Hutan Itu Indonesia”
  • Instagram Photo Contest
  • Roadshow & Workshop 5 Kampus “Hutan Itu Indonesia”
  • Festival Panrangnuangku Ri Romanga

 

Mari perluas wawasan anda mengenai pentingnya keberadaan hutan di kehidupan kita. Pantau terus informasi selanjutnya tentang Hutan Itu Indonesia dan raih hadiah menarik di setiap acaranya.

 

SALAM LESTARI

Mengenal “Sampah Makanan”, Salah Satu Kontributor Perubahan Iklim

1 Oct

food-loss-food-waste

Menurut FAO, sampah makanan berarti jumlah sampah yang dihasilkan pada saat proses pembuatan makanan maupun setelah kegiatan makan yang berhubungan dengan prilaku penjual dan konsumennya.

Sampah makanan dapat berasal dari perilaku yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Makanan yang akan tumpah atau membusuk sebelum mencapai produk akhir atau tahap ritel disebut kehilangan makanan / food loss. Hal ini dapat terjadi karena terdapat masalah pada saat panen, penyimpanan, pengepakan, transportasi, infrastruktur atau mekanisme pasar / harga, serta kerangka kerja kelembagaan dan hukum.

Sebagai contoh, pisang yang dipanen jatuh dari truk, dianggap sebagai kehilangan makanan (food loss). Sedangkan, makanan yang layak untuk dikonsumsi manusia, tetapi tidak dikonsumsi karena rusak atau dibuang oleh pengecer atau konsumen disebut limbah makanan. Limbah makanan dapat disebabkan karena buruknya aturan penandaan makanan masuk dan keluar, sehingga banyak makanan yang terbuang percuma karena kadaluwarsa, penyimpanan yang tidak tepat,  dan membeli atau praktek memasak.

Menurut data tahun 2010, Amerika Serikat menghasilkan 34 juta ton sampah makanan dan hanya 3 persen yang mampu di daur ulang kembali. Di Inggris, 1/3 makanan yang dibeli oleh setiap penduduknya berakhir di tempat sampah, yang juga berarti setiap keluarga di Inggris setiap tahunnya membuang makanan seharga 400 poundsterling (5,9 juta rupiah).

Untuk tingkat dunia (data tahun 2010), sampah makanan mencapai 1,3 Triliun ton yang dibuang setiap tahun. Jumlah tersebut merupakan sepertiga dari jumlah makanan yang diproduksi. Dengan rincian 40% sampah makanan yang dihasilkan negara berkembang berasal dari proses produksi, sedangkan untuk industrialized country, menghasilkan 40% sampah makanan pada saat berada ditangan konsumen.

Kenapa Food Loss dan Food Waste adalah sebuah masalah?

Food Loss dan Food Waste menjadi sebuah masalah karena untuk memproduksi makanan yang akhirnya menjadi sampah dan dibuang tersebut, digunakan 25% dari seluruh air bersih yang tersedia atau setara telah menghabiskan 600 kubik kilometer air. Padahal, 1.1 juta orang di dunia tidak memiliki akses air minum.

Selain itu, 300 juta galon minyak bumi dan penebangan hutan seluas 9,7 juta hektar untuk budidaya tanaman pangan, akan menjadi terbuang sia-sia karena makanan yang diproduksi menjadi sampah.

Perlu diketahui dengan membuang makanan tentu saja membuang sumber daya dan energi yang lain. Misalnya kita membuang 1 liter susu, berarti kita juga membuang air yang diperlukan untuk membuat susu itu beserta energi yang diperlukan untuk membuat 1 liter susu. Belum lagi makanan untuk ternak sapi perah susu, bahkan jika sapi tersebut makan rerumputan berarti kita juga membuang air sebanyak yang dibutuhkan untuk menumbuhkan rerumputan tersebut.

Menurut Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Surabaya (ITS), FAO memperkirakan bahwa sepertiga dari produksi pangan global akan terbuang atau hilang. Limbah makanan itu menguras potensi sumber daya alam yang besar, namun justru menjadi kontributor terhadap dampak lingkungan yang negatif.

Setelah berada di tempat pembuangan sampah, makanan rusak akan menghasilkan gas metan. Metana 23 kali lebih kuat daripada CO2 untuk menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca yang memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim saat ini. Menurut FAO, sampah makanan memberikan kontribusi sebesar 8% emisi GHG (Green House Gas).

Karena efek rumah kaca, sinar matahari memancarkan radiasi ultraviolet ke bumi yang akan diterima oleh bumi dan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah. Atmosfer akan meneruskan radiasi inframerah ini ke luar angkasa. Namun karena terdapat gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer akan menghalanginya sehingga dipantulkannya kembali radiasi inframerah ini ke bumi. Ditambah dengan radiasi ultraviolet dari matahari, akan menyebabkan naiknya suhu permukan bumi.

Efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global. Karena itu makanan yang terbuang di tempat sampah berkontribusi  cukup besar terhadap pemanasan global.

Selain daripada itu sisa makanan mengandung konten organik dan kelembaban tinggi, ketika membusuk akan menghasilkan bau menyengat yang akan berdampak serius terhadap lingkungan hidup dan kesehatan kita. Dengan mengurangi sampah makanan, secara tidak langsung kita juga mengurangi resiko terjadinya climate change atau perubahan iklim. Berdasarkan FAO, Jika pemanfaatan makanan dan proses distribusi dapat dioptimalkan atau ditata secara baik, maka 14% dari seluruh emisi GHG yang berasal dari sektor pertanian, dapat direduksi pada 2050.

Apa yang harus dilakukan?

Di beberapa negara di Benua Eropa dan Amerika Serikat, sampah sisa makanan telah menjadi topik pengelolaan sampah yang dibicarakan secara khusus. Di Amerika Serikat pada khususnya, kampanye mengenai food recovery hierarchy telah disebarluaskan kepada masyarakat. Food recovery hierarchy ini mengedapankan pengurangan sampah makanan di sumber dan menjadikan penimbunan di landfill sebagai opsi yang paling dihindari. Sebagai contoh lain, Negara Singapura telah melakukan pilot project daur ulang sampah makanan menjadi bahan kompos dan pembangkit energi pada tahun 2010.

food-waste-recovery-hierarchy

Sedangkan di Indonesia pengelolaan sampah makanan masih dimasukkan ke dalam pengelolaan sampah kota, dimana hal ini akan memperpendek jangka waktu pemakaian landfill itu sendiri, sampah makanan yang mudah terurai dan dapat dikelola secara terpisah tetap ditimbun di dalam landfill.

Menurut Khoo HH et al (2009), dari beberapa alternatif pengelolaan sampah makanan yang tersedia, metode composting dan penggunaan metode anaerobic digestion merupakan metode daur ulang sampah makanan yang cukup berhasil.

MoS2 Template Master

Keunggulan dari metode ini yaitu:

  1. Penggunaan food digester skala rumah tangga perkotaan dapat mengurangi penggunaan LPG 100 kg atau 250 liter minyak tanah yang ekuivalen dengan 300-600 kg CO2/ tahun.
  2. Untuk rumah tangga perdesaan mengurangi 3 ton kayu per tahun yang akan menghasilkan 5 ton CO2 kalau dibakar.
  3. Metana terbakar dengan warna biru tanpa menghasilkan asap yang banyak. Berbeda dengan bahan bakar kayu.
  4. Efluen dari digester dapat digunakan sebagai pupuk cair.

Selain itu, untuk mengatasi masalah sampah makanan ini juga bisa dengan membuat Food Bank. Dimana Food bank berperan sebagai pusat koordinasi makanan sisa dan sumbangan dari berbagai sumber. Mulai dari pabrik makanan, restoran, hingga rumah tangga. Nantinya makanan itu diolah, disimpan, dijual, dan disumbangkan kepada konsumen yang membutuhkan, seperti posko pengungsian, panti asuhan, dan sekolah. Jadi, makanan tidak akan terbuang percuma dan masyarakat yang membutuhkanpun bisa tercukupi makanannya.

Berikut beberapa tips untuk menghindari makanan bersisa:

  1. Jika anda hendak makan direstoran, pilihlah restoran yang menyajikan makanan sesuai dengan porsi makan anda. Hanya memesan makanan yang sekiranya benar-benar akan dimakan dan habis. Atau bisa beralih ke restoran prasmanan di mana kita yang menentukan porsi makanan sendiri
  2. Jika anda hendak mengadakan sebuah acara jamuan makan atau pesta perkirakan jumlah tamu yang akan datang dan sesuaikan dengan banyaknya makanan yang akan dihidangkan. Sisa hidangan pesta yang masih memungkinkan bisa simpan di lemari pendingin. Sehingga nanti bisa dimasak kembali dengan resep yang berbeda sehingga tidak bosan.
  3. Sesuaikan belanjaan bahan makanan dengan menu yang kan dibuat.
  4. Jangan pernah membeli makanan yang cepat busuk jika tidak ingin segera mengolahnya.
  5. Membeli makanan di pasar lokal, agar mengurangi biaya transportasi makanan.

Jangan buang-buang makanan ya!

Salam lestari!


Sumber:

http://www.fao.org/food-loss-and-food-waste/en/

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-09-11/limbah-makanan-emiten-karbon-ketiga-terbesar-di-dunia/1189427

http://www.zetizen.com/show/1284/food-bank-penyalur-sisa-makanan

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2013/07/19/nasib-makanan-terbuang-global-warming/

http://www.banksampahmelatibersih.com/2013/04/fakta-tentang-sampah-makanan-food-waste.html#.V-KmjzXcDmE

http://blh.probolinggokota.go.id/biogas-dari-sampah-makanan-food-digester/

BAKSOS Bersama KOPHI Sulsel : “NGUPAS” (Ngumpul Sampah Dapat Sembako)

25 Jun

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Bulan Ramadhan menjadi ajang berlomba-lomba dalam kebaikan. Salah satu amal kebaikan yang ramai dilaksanakan di bulan Ramadhan ialah bersedekah. Sesuai dengan Ayat di atas, bersedekah merupakan amal ibadah yang tidak mengurangi harta, justru malah akan terus bertambah dan bertambah.

Mengingat pentinganya berbagi, khususnya di bulan yang suci ini, Koalisi Pemuda Hijau Sulawesi Selatan (KOPHI SulSel) menggelar kegiatan Baksos atau Bakti Sosial untuk mengisi kegiatan amaliah Ramadhan pada tahun ini. Namun, dengan tetap berfokus pada peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat, KOPHI sebagai wadah para agen perubahan, menggelar Bakti Sosial yang mengombinasikan antara berbagi dan menjaga kebersihan lingkungan.

Mengusung kegiatan yang bernama NGUPAS (Ngumpul Sampah Dapat Sembako), para anggota Kophi Sulsel terjun langsung ke masyarakat, tepatnya di daerah pemukiman yang terbilang kumuh dan minim kesadaran lingkungan untuk memberikan sosialisasi kepada warga sekitar mengenai pemilahan sampah anorganik dan organik khususnya sampah plastik yang kemudian dirangkaian dengan penukaran hasil pemilahan sampah plastik mereka untuk bantuan berupa sembako. Setiap 1 kg sampah plastik yang berhasil dikumpulkan oleh warga dapat ditukar dengan 1 paket sembako. Dimana dana yang digunakan untuk pengadaan sembako ini berasal dari donasi yang terkumpul di kas KOPHI Sulsel.

1466865830312

suasana NGUPAS (24/06/2016)

1466865828809

Suasana Ngupas (24/06/2016)

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (24/06/2016), di Jalan Gatot Subroto IV Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan ini terbilang kegiatan unik yang dilakukan oleh KOPHI Sulsel. Menurut ketua Panitia NGUPAS, Nadya, Ibarat  sambil menyelam minum air, aksi ini tidak terbatas pada kegiatan bersedekah tetapi juga edukasi gaya hidup hijau pada masyarakat yang tidak hanya kurang secara ekonomi tetapi juga kurang dalam hal pengetahuan akan lingkungan.

Hal ini tentu saja merupakan terobosan baru yang dilakukan oleh KOPHI Sulsel sekaligus menginspirasi para penggiat lingkungan lainnya untuk dapat melakukan aksi kampanye hijau dengan metode yang kreatif nan efektif.

Salam Lestari!

[zah]

Memahami Lebih Jauh : Hari Tanpa Tembakau Sedunia

31 May

Pagi ini seperti biasa aku sudah siap untuk menuntut ilmu. Kemeja, jeans, dan tas selempang sudah rapih melekat di tubuhku dengan sentuhan minyak wangi yang membuat ibu-ibu tetangga menggoyangkan hidung mereka jika aku lewat nanti.

Setelah berdiri di pedestrian jalan cukup lama, akhirnya mobil merah berplat kuning yang kami sebut dengan pete-pete atau di belahan Indonesia lain menyebutnya angkutan kota berhenti di hadapanku sambil membunyikan klaksonnya tak lupa sopirnya membujuk dengan kalimat persuasif nan ampuh, “Langsung jalan.. langsung jalan..”

Karena dikejar waktu, aku langsung melompat naik ke kursi penumpang pete-pete.

“Uhuk…uhukk..” refleks saja aku terbatuk begitu duduk manis. Wewangian yang tadi kupakai rasanya sudah menguap di udara bebas dan digantikan dengan bau tembakau terbakar dengan asap mengepul yang mengisi sebagian pete-pete.

Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari si biang kerok, seluruh penumpang yang hampir seluruhnya anak kuliahan dan anak-anak pun sudah menutup hidung mereka sambil sesekali mengipas-ngipas udara kosong agar terhindar dari kepulan asap. Di ujung kursi aku melihat, seorang pria paruh baya tengah asik mengisap sebatang rokok sambil membuang muka. Seolah-olah tak peduli akan nasib generasi bangsa yang Ia racuni..

***

Cerita di atas merupakan potret kisah pilu pengguna transportasi umum di kota Makassar, dimana seharusnya diberikan kenyamanan, justru malah harus menanggung beban menjadi perokok pasif karena penumpang lainnya yang tidak paham akan bahaya asap rokok. Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 115 ayat 1 menyebutkan bahwa salah satu kawasan tanpa rokok adalah Angkutan Umum.

Tetapi, sepertinya refleksi Undang-undang tersebut belum tercermin dari perilaku masyarakat yang masih sering merokok di tempat umum. Bukan hanya penumpang, tetapi sopir pun kadang menjadi biang kerok sumber polusi asap rokok di kendaraan umum. Padahal, selain melanggar hak asasi manusia, merokok juga mengancam kesehatan dan lingkungan bahkan  hak hidup atas setiap warga negara.

Survei yang diadakan oleh Yayasan Jantung Indonesia tahun 1990 yang dikutip oleh Saifuddin Azwar  mengatakan bahwa “pada anak-anak berusia 10-16 tahun sebagai berikut : angka perokok <10 tahun (9%), 12 tahun (18%), 13 tahun (23%), 14 tahun (22%), dan 15-16 tahun (28%). Mereka yang menjadi perokok karena dipengaruhi oleh teman-temannya sejumlah 70%, 2% diantaranya hanya coba-coba. Selain itu, menurut data survei kesehatan rumah tangga 2002 seperti yang tercatatat dalam koran harian Republika tanggal 5 juni 2003, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 75% atau 141 juta orang. Sementara itu, dari data WHO jumlah perokok di dunia ada sebanyak 1,1 miliar orang, dan 4 juta orang di antaranya meninggal setiap tahun.”

Bukan hanya merugikan sang perokok, tetapi rokok juga merugikan orang yang terkena paparan asap rokok.  Dalam asap rokok terdapat sekitar 4000 senyawa kimia, termasuk diantaranya 70 bahan yang diketahui atau memiliki kemungkinan bersifat karsinogen bagi manusia. Dampak kesehatan dari kecanduan tembakau yang didalamnya termasuk rokok meliputi : berbagai jenis kanker seperti kanker mulut dan paru, penyakit jantung, stroke dan masalah vaskular lainnya, penyakit dan masalah pernafasan seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan sulit bernafas, serta komplikasi reproduksi seperti keguguran dan kemandulan. Coba bayangkan jika ibu hamil dan anak-anak yang merupakan penerus masa depan bangsa dijejali dengan asap rokok oleh-oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan, bukan?

Pertumbuhan rokok Indonesia pada periode 2000-2008 adalah 0.9 % per tahun. WHO pun mengingatkan bahwa rokok merupakan salah satu pembunuh paling berbahaya di dunia. Pada tahun 2008, lebiih 5 juta orang mati karena penyakit yang disebabkan rokok. Ini berarti setiap 1 menit tidak kurang 9 orang meninggal akibat racun pada rokok. Angka kematian oleh rokok ini jauh lebih besar dari total kematian manusia akibat HIV/AIDS, tubercolis, malaria dan flu burung.

Asap rokok juga dapat mencemari udara dengan lebih dari 69 bahan kimia penyebab kanker, termasuk tar, arsen, benzena dan kadmium. Berikut ancaman rokok terhadap kerusakan lingkungan hidup, yang disampaikan oleh Mochamad Zamroni – aktivis Tunas Hijau (dalam theklc.wordpress.com), diantaranya :

1.      Puntung rokok membutuhkan waktu 1,5 – 2,5 tahun untuk terurai dalam tanah
2.      Puntung rokok dapat terurai di air tawar sekitar satu tahun dan dapat terurai di air laut/air asin sekitar lima tahun.
3.      Diperkirakan 4,5 trilliun puntung rokok dibuang tidak pada tempatnya (sembarangan) setiap tahun di seluruh dunia
4.      Pada tahun 2005, sekitar 24 milliar rokok terjual di Australia. Dari jumlah ini sekitar 7 milliar puntung rokok dibuang sembarangan
5.      Sekitar 100.000 ton polusi udara  dihembuskan oleh perokok di New South Wales, Australia setiap tahunnya
6.      Menurut survei yang dilakukan oleh Tunas Hijau pada tahun 2005, 39 dari 40 perokok di Jawa Timur membuang puntungnya di sembarangan tempat.
7.      Satu puntung rokok dapat tetap menyala selama tiga jam dan menyebabkan kebakaran rumput dan semak-semak
8.      Lebih dari 4500 kebakaran setiap tahun terjadi dunia yang disebabkan oleh rokok dan material perokok
9.       Puntung rokok mungkin terlihat kecil, tetapi dengan estimasi 4,5 trilliun puntung rokok yang dibuang sembarangan di seluruh dunia setiap tahun, maka bahan-bahan kimia berbahaya pun sangat meningkat.
10.  Puntung rokok mengandung bahan kimia berbahaya seperti cadmium, arsenic dan timah yang secara parsial dilepaskan ke udara selama proses merokok yang menambah menurunkan kualitas udara sekitar.
11.  Ketika puntung-puntung rokok dibuang, angin dan hujan membawanya ke saluran air. Kimia beracun yang dikandungnya kemudian dilarutkan pada ekosistem air dan mengancam kualitas air dan kehidupan air.
12.  Puntung rokok menjadi salah satu isu penting dari jenis sampah yang dibuang sembarangan. Permasalahan sampah ini terus meningkat dengan adanya peraturan pemerintah yang melarang aktivitas merokok di dalam ruangan seperti restoran, perkantoran dan fasilitas umum.
13.   Setelah dibuang, puntung rokok yang masih menyala bisa bertahan hingga 3 jam. Dengan 4000 bahan kimia beracun yang dikandungnya, maka hampir tiap detik selalu ada racun yang dilepaskan
14.  Burung dan hewan-hewan laut sering menganggap puntung rokok sebagai makanannya, yang mengakibatkan rusaknya saluran pencernaan makanan dan kematian. Di seluruh dunia puntung rokok sering ditemukan di perut burung-burung yang mati muda, kura-kura dan hewan laut lainnya
15.  Permasalahan serius lainnya adalah bahan beracun kadmium dan timah yang dikandung puntung rokok dapat larut semuanya setelah puntung rokok tersebut berada di air selama satu jam.

Selain mencemari lingkungan dan merugikan kesehatan manusia, cukai rokok menyumbang lebih dari 60 trilliun rupiah setiap tahunnya yang tidak sebanding dengan biaya perawatan kesehatan yang dikeluarkan akibat dampak rokok yaitu sebesar tiga kali lipatnya.

1464697406349

Pada hari ini, 31 Mei 2016 diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day. Hari Tanpa Tembakau Sedunia pertama kali diperkenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 31 Mei 1989 untuk mendorong kesadaran masyarakat di seluruh dunia agar mengurangi atau menghentikan konsumsi tembakau dalam bentuk apapun. Perayaan ini sekaligus bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat global untuk menyebarkan pesan tentang efek berbahaya penggunaan tembakau dan dampaknya terhadap orang lain.

Tema yang diusung oleh WHO untuk memperingati hari tanpa tembakau sedunia tahun 2016 ini adalah “Bersiaplah untuk Kemasan Polos” dengan tujuan untuk mengurangi ketertarikan terhadap produk tembakau. Menurut WHO, hal tersebut penting untuk mengurangi daya tarik produk tembakau, membatasi penggunaan kemasan tembakau sebagai bentuk iklan dan promosi, pelabelan dan kemasan yang menyesatkan, serta mengefektifkan peringatan bahaya kesehatan.

Australia menjadi negara pertama yang telah mengimplementasi kemasan polos produk tembakau pada tahun 2012. Sejumlah negara termasuk Irlandia, Inggris dan Perancis telah meresmikan hukum untuk mengimplementasikan kemasan polos dan tengah memasuki tahap pertimbangan untuk mengimplementasikannya.

Bagaimana dengan Indonesia? Semoga Indonesia juga segera mengimplementasikan kemasan polos rokok tersebut. Selain itu, semoga masyarakat Indonesia juga lebih paham tentang “Merokok Pada Tempatnya” sehingga kerugian akibat asap rokok bisa direduksi seminimal mungkin.

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia! Salam lestari!

[zah]

Sumber:

Prasetya, Lukyta Dwi. 2012. Pengaruh Negatif Rokok bagi Kesehatan di Kalangan Remaja [pdf]

Saifuddin Azwar. 1997 Reabilitas dan Validitas. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal 19.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/hari-tanpa-tembakau-sedunia-2016-bersiaplah-untuk-kemasan-polos

http://dewirokhmah.blogspot.co.id/2016/05/memperingati-world-no-tobacco-day-1-mei.html

https://theklc.wordpress.com/2014/01/12/pengaruh-rokok-terhadap-kerusakan-lingkungan-hidup/